Harga Emas Kehilangan Kilaunya, Tertekan Data Tenaga Kerja AS

BeritaLokal, Jakarta – Harga emas dunia merosot tajam pada perdagangan Jumat (Sabtu waktu Jakarta) setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat konflik di Timur Tengah.

Dikutip dari CNBC, harga emas di pasar spot turun 2,2 persen menjadi USD 4.375,19 per ons. Secara mingguan, logam mulia tersebut telah melemah sekitar 3,6 persen. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga turun 2,2 persen ke level USD 4.405,10 per ons.

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan jumlah tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) bertambah 172.000 pekerjaan pada Mei 2026, setelah sebelumnya meningkat 179.000 pekerjaan pada April yang telah direvisi naik. Angka tersebut jauh melampaui proyeksi ekonom dalam survei Reuters yang memperkirakan penambahan hanya 85.000 pekerjaan, setelah laporan awal April menunjukkan kenaikan 115.000 pekerjaan. “Kami mendapatkan data payroll yang jauh lebih tinggi dari ekspektasi pasar,” kata Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek.

Melembabnya harapan The Fed menurunkan suku bunga disebut sebagai faktor utama. Menurut Melek, kondisi tersebut memperkecil kemungkinan The Fed memiliki keinginan untuk menurunkan suku bunga karena perang yang melibatkan Iran masih berlangsung dan harga energi terus meningkat sehingga menambah tekanan inflasi. “Dengan masih berlangsungnya konflik di Iran serta tingginya harga energi dan tekanan inflasi, sangat kecil kemungkinan The Fed memiliki keinginan untuk menurunkan suku bunga,” jelasnya.

Selain itu, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS menciptakan tekanan bagi emas. Pada saat data ketenagakerjaan dirilis, yield obligasi pemerintah AS melonjak, meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Harga minyak Brent juga bergerak menuju kenaikan mingguan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Sejak konflik yang didukung AS terhadap Iran pecah pada akhir Februari lalu, harga emas telah terkoreksi lebih dari 16 persen. Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga. Meski emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya justru memberikan tekanan terhadap harga logam mulia karena membuat instrumen berbunga menjadi lebih menarik bagi investor.

Berdasarkan data CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 68 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang. Sebelum rilis data ketenagakerjaan, probabilitas tersebut masih berada di kisaran 50 persen.

Di pasar fisik, permintaan emas di India dilaporkan masih lesu sepanjang pekan ini. Sementara itu, premi harga emas di China juga mengalami penurunan. Logam mulia lainnya seperti perak dan platina juga mengalami tekanan. Harga perak spot turun 5,8 persen menjadi USD 69,50 per ons, sementara platinum melemah 3 persen ke level USD 1.842,70 per ons, dan paladium turun 1,6 persen menjadi USD 1.299,25 per ons. Ketiga logam tersebut juga berada di jalur penurunan secara mingguan.

Kondisi ekonomi global terus menekan permintaan emas, mengurangi keuntungan bagi investor yang memilih logam mulia sebagai aset penggantian. Meski demikian, kekhawatiran inflasi dan tekanan suku bunga tetap menjadi faktor utama dalam pergerakan harga emas dunia.

error: Content is protected !!