BeritaLokal, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin, 15 Juni 2026, seiring dengan penguatan sentimen domestik yang memicu kepercayaan pasar. Rupiah tercatat berada di level 17.860 per dolar AS, naik 0,71% dari level 17.989 pada penutupan Jumat kemarin. Pergerakan ini disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal seperti harapan perdamaian Timur Tengah dan dampak sentimen risiko di pasar global.
Analitik mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, rupiah berpotensi naik lebih tinggi hingga 17.850 per dolar AS dalam waktu dekat. Ia menyebut penguatan rupiah dipicu oleh harapan perdamaian antara AS dan Iran, yang diharapkan memicu sentimen risk-on di pasar. “Indeks dolar AS turun karena kesepakatan damai interim antara AS dan Iran telah tercapai,” kata Leong.
Ekonom BCA David Sumual menilai rupiah akan bergerak di kisaran 17.700-18.100 per dolar AS dalam jangka pendek. Faktor dominan adalah sentimen eksternal terkait konflik Timur Tengah, serta dinamika kebijakan fiskal domestik yang menunjukkan koordinasi antara BI dan pemerintah. “Kenaikan suku bunga acuan BI dan data APBN Mei yang lebih baik menjadi fondasi untuk kinerja rupiah,” kata Sumual.
Penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh tren penguatan dolar AS dan ketidakpastian global, meskipun BI telah menaikkan suku bunga acuan. “Namun, pasar masih mempertimbangkan dinamika suku bunga bank sentral AS dan imbal hasil obligasi AS,” tambahnya.
Sementara itu, JISDOR Bank Indonesia menguat ke level 17.921 per dolar AS dari sebelumnya 17.981. Dalam analisis terbaru, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebut bahwa penguatan rupiah dipandu koordinasi BI dan pemerintah dalam menahan defisit APBN, keseimbangan primer surplus, serta pertumbuhan pendapatan negara. “Kebijakan fiskal harus berkelanjutan untuk mencegah risiko subsidi energi,” katanya.
Kombinasi penguatan dolar AS, kehati-hatian pasar menjelang akhir pekan, dan ketidakpastian global tetap membatasi kinerja rupiah. Meski BI telah menaikkan suku bunga acuan, pergerakan rupiah masih tergantung pada dinamika pasar internasional dan kebijakan fiskal yang bisa dipertahankan hingga akhir tahun.
(Info tambahan: Data JISDOR Bank Indonesia pada 15 Juni 2026 mencatat kurs dolar AS di level 17.689, sementara rupiah menunjukkan kisaran 17.750-17.850 per dolar AS.)