Dolar AS Sentuh Rp 18.000 Hari Ini

Analis prediksi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh posisi 17.960-180.030 pada Kamis, (4/6/2026).

PerbesarSeorang menghitung uang kertas Dolar AS di salah satu kantor penukaran uang, Jakarta, Selasa 12 Mei 2026. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terpuruk pada perdagangan Selasa (12/5/2026). (BAY ISMOYO/AFP)

, Jakarta – Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis pagi, (4/6/2026). Analis prediksi, dolar AS akan bergerak di kisaran Rp 17.960-18.030.

Berdasarkan data google finance, dolar Amerika Serikat terhadap rupiah sudah menyentuh level 18.000. Dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 18.010. Saat ini, dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 18.001. Dolar AS naik sekitar 0,76% terhadap rupiah.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, rupiah melemah 127,5 poin atau 0,71 persen menjadi 17.966 per dolar AS pada perdagangan Rabu sore.

Sebelumnya, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menuturkan, pelemahan rupiah yang mendekati 18.000 per dolar AS itu dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik.

Dari eksternal, investor masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan, sementara Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke Kuwait dan Bahrain.

“Putaran pembicaraan lain yang melibatkan Israel dan Lebanon dijadwalkan pada Rabu, sementara ketidakpastian masih berlanjut mengenai negosiasi antara Washington dan Teheran,” kata Ibrahim dikutip dari Antara.

Dia menuturkan, laporan media Iran yang menyebut tidak adanya komunikasi antara Teheran dan Washington dalam beberapa hari terakhir memunculkan spekulasi perundingan mengalami kebuntuan.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran terhadap inflasi global dan mendorong spekulasi bahwa bank sentral AS alias The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Data yang dirilis pada Selasa, 2 Juni 2026 menunjukkan jumlah lowongan kerja di AS meningkat secara tak terduga pada April 2026.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS akan tetap bersikap ketat dalam kebijakan moneternya.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi AS, termasuk laporan ketenagakerjaan ADP, indeks sektor jasa ISM, dan data pesanan pabrik yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed menjelang rilis data nonfarm payrolls pada Jumat,5 Juni 2026.

Sementara, dari dalam negeri, Ibrahim memandang sentimen terhadap mata uang garuda memburuk setelah inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2026 yang sebesar 0,13 persen.

Pada Kamis, 4 Juni 2026, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif pada kisaran 17.960-18.030 per dolar AS.

Purbaya Bantah Pelemahan Rupiah Dipicu Fiskal

PerbesarTeller menunjukkan uang dolar dan rupiah di penukaran uang di Jakarta, Junat (23/11). Nilai tukar dolar AS terpantau terus melemah terhadap rupiah hingga ke level Rp 14.504. (/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) disebabkan oleh kondisi fiskal pemerintah. Menurut dia, pergerakan kurs dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi sentimen dan rumor yang beredar di pasar.

Purbaya menilai pelemahan rupiah terjadi dalam waktu relatif singkat dan dipicu berbagai spekulasi yang berkembang di kalangan pelaku pasar.

“Karena ada isu macam-macam, ada rumor macam-macam di pasar,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Ia mencontohkan salah satu rumor yang beredar, yakni kabar bahwa dirinya meminta perbankan melakukan stress test dengan asumsi nilai tukar rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar AS.

“Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah mengeluarkan isu seperti itu,” kata Purbaya.

 

Kewenangan BI

PerbesarIni menjadi titik pelemahan terdalam sepanjang sejarah perdagangan rupiah. Pelemahan ini lebih dalam jika dibandingkan titik terendah saat Krisis Moneter 1998 (Rp16.650) dan masa pandemi Covid-19 (Rp16.575). Tampak dalam foto, seorang menghitung uang kertas Rupiah di salah satu kantor penukaran uang, Jakarta, Selasa 12 Mei 2026, di tengah depresiasi Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. (BAY ISMOYO/AFP)

Menurut dia, pengelolaan nilai tukar rupiah pada dasarnya merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter. Karena itu, pemerintah memberikan ruang bagi bank sentral untuk menjalankan tugasnya menjaga stabilitas nilai tukar.

“Pertama itu kan jurisdiksi Bank Sentral untuk menjaga nilai tukar. Itu biar mereka jalan dulu. Nanti kita lakukan rapat berkala secara normal saja,” ujarnya.

Purbaya menegaskan pemerintah tetap siap meningkatkan koordinasi apabila diperlukan langkah bersama untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.

“Kalau ada koordinasi yang bisa ditingkatkan sehingga memperbaiki nilai tukar, kita akan lakukan. Kecuali Bank Sentral minta rapat cepat, ya kita akan rapat cepat,” katanya.

Koordinasi Antarotoritas

Sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya menjelaskan koordinasi antarotoritas sebenarnya berlangsung secara rutin melalui rapat tingkat deputi yang digelar setiap bulan.

“Setiap bulan kita ada rapat deputi. Mereka diskusi terus dan memberikan masukan ke kita. Tapi kalau masalah nilai tukar, Bank Sentral adalah ahlinya. Kita serahkan ke Bank Sentral,” tuturnya.

Untuk diketahui, nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 127,5 poin atau 0,71 persen ke level Rp 17.966 per dolar Amerika Serikat (AS), semakin mendekati ambang psikologis Rp 18.000 per dolar AS.



error: Content is protected !!