Geser Mukesh Ambani, Pendiri TikTok Zhang Yiming jadi Orang Terkaya Kedua di Asia

BeritaLokal, Jakarta – Pendiri TikTok, Zhang Yiming, kini menduduki posisi kedua orang terkaya di Asia, menggeser Mukesh Ambani sebagai pemenang. Perubahan ini mencerminkan dinamika ekonomi global yang terus berkembang, terutama dalam konteks pertumbuhan valuasi perusahaan ByteDance dan inisiatifnya untuk memperkuat posisi di industri kecerdasan buatan (AI).

Selain kenaikan nilai perusahaan, Zhang Yiming juga mengalami lonjakan kekayaannya sebesar tujuh kali lipat sejak Maret 2019, saat valuasinya mencapai US$ 13 miliar. Peningkatan ini disebabkan oleh kemajuan produk ByteDance, seperti TikTok dan chatbot AI Doubao, yang telah menarik lebih dari 300 juta pengguna bulanan di Tiongkok. Perusahaan juga memindahkan bagian bisnisnya ke AS pada awal tahun ini kepada investor Amerika, menjawab isu regulasi terkait TikTok.

Indeks Bloomberg Billionaires Index mengungkapkan bahwa valuasi ByteDance mencapai US$ 92,8 miliar atau sekitar Rp 1.665 triliun (asumsi kurs USD-RI 17.950), menempatkan Zhang Yiming sebagai orang terkaya di China. Analis Capital Securities dari Shanghai, Amy Lin, mengungkapkan bahwa kenaikan valuasi mencerminkan fundamental perusahaan yang kuat dan keberhasilan produknya. Meski ada perubahan regulasi AS, seperti RUU melarang operasi TikTok di negara tersebut, diskon nilai perusahaan turun dari 25% menjadi 10% pada Juni lalu.

Pertumbuhan kekayaan Zhang Yiming juga tergantung pada analisis valuasi dari investor BlackRock, Fidelity Investments, dan T Rowe Price Group, yang menunjukkan peningkatan hampir dua kali lipat dibandingkan evaluasi sebelumnya. ByteDance belum menanggapi komentar publik, tetapi perusahaan terus berinvestasi dalam AI dengan rencana pengeluaran hingga US$ 70 miliar pada tahun ini. Analis DZT Research dari Singapura, Ke Yan, mengatakan bahwa penurunan risiko valuasi membuatnya lebih menarik bagi investor.

Sementara itu, Mukesh Ambani turun ke peringkat ketiga orang terkaya di Asia dengan kekayaan US$ 86,9 miliar atau Rp 1.560 triliun. Gautam Adani tetap menjadi pemenang kawasan Asia dengan valuasi US$ 117,4 miliar. ByteDance, perusahaan swasta terbesar di Tiongkok, kini mengutamakan posisi dalam pasar AI China dan menantang pemain AS seperti Meta. Meski operasi TikTok di AS dialihkan ke konsorsium Oracle, Silver Lake, dan MGX, perubahan regulasi ini dianggap sebagai pendorong untuk peningkatan peringkat entitas.

Kecerdasan buatan menjadi fokus utama ByteDance, dengan rencana investasi hingga US$ 70 miliar dalam tahun ini. Perusahaan menggandakan target keuntungan sekitar US$ 50 miliar pada 2025. Meski valuasi masih terlihat murah berdasarkan fundamentalnya, analis mempertegas bahwa peluang perusahaan untuk menguatkan posisi di pasar AI Asia tetap terbuka.

Artikel Terkait

0