Kurs Rupiah Merekayap ke 17.921 per USD, Sentimen Tertinggi

BeritaLokal, Jakarta – Rupiah Melejit ke 17.921 per Dolar AS, Sentimen Internal jadi Pemicu, nilai tukar rupiah tetap menguat hingga penutupan perdagangan pada hari Jumat, 17 Juli 2026, menutup di zona hijau antara 17.921, 17.950 dolar AS. Pergerakan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat, sekaligus memperkuat pandangan bahwa sentimen domestik berperan signifikan.

Pada sore hari Jumat, rupiah sempat mencatat kenaikan tajam sebesar 85 poin, rangkingnya mencapai Rp 17.921 per dolar AS, sebelum akhirnya menguat 65 poin menjadi Rp 17.986 pada penutupan. Menurut ekonomi, pasar menanggapi dinamika di luar negeri dengan memfokuskan pada perbandingan USD dan akibatnya terhadap harga energi global. Peningkatan volatilitas mata uang ini menunjukkan pasar internasional bereaksi cepat terhadap peristiwa geopolitik.

Banyak pelaku pasar menyesali intensifikasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Aksi militer AS yang menargetkan fasilitas di Iran menimbulkan ketidakpastian pasokan energi, sementara balasan Iran dengan rudal dan drone ke pangkalan militer AS memperbesar risiko di kawasan. Teheran mengubah strategi dengan meminta kelompok Houthi menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah jika Amerika menyerang infrastruktur kelistrikan Iran, menciptakan tekanan pahit atas harga minyak dunia yang tetap tinggi. Fluktuasi harga energi ini, pada gilirannya, memicu laju inflasi global yang sebelumnya telah menurun.

Pasar Bisnis Tumbuh Pesat

Bank Indonesia mengumumkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) kuartal kedua 2026, mencatat peningkatan Surplus Bersih Tertimbang (SBT) menjadi 12,97 % dibanding 10,11 % kuartal sebelumnya. Kenaikan tersebut dipicu oleh kinerja kuat di lapangan usaha utama, termasuk pertanian, kehutanan, perikanan, konstruksi, pertambangan, serta usahakan akomodasi dan minuman yang melihat permintaan stabil selama bulan-bulan besar keagamaan dan liburan sekolah. Produksi terpakai naik menjadi 73,8 % pada kuartal kedua, lebih tinggi daripada 73,33 % kuartal pertama, ditopang kuat oleh sektor pertanian, pertambangan, dan listrik. Meskipun kredit tetap mudah diakses, responden memandang aktivitas dunia usaha di kuartal ketiga akan sedikit melambat menjadi SBT 11,75 %, namun masih mengekalkan kondisi likuiditas dan rentabilitas yang sehat.

Ekonomi menyoroti bahwa faktor domestik ini berperan signifikan dalam pergerakan rupiah. Kinerja positif dunia usaha menegaskan dasar ekonomi dalam negeri yang kuat, sekaligus menambah dasar bagi kepuasan bank sentral terkait pencapaian target inflasi. Namun, ambang ketidakpastian global masih menekan ekspektasi pasar terhadap suku bunga AS. Federal Reserve tetap menegaskan bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya terkendali, sehingga pelonggaran kebijakan moneter akan memerlukan beberapa bulan data konsisten sebelum dipertimbangkan. Penyempurnaan ekspektasi suku bunga ini mengamankan posisi rupiah di ruang ‘zona hijau’ meski persaingan pasar global terus mematikan.

Seiring dengan ketegangan di Timur Tengah, kenaikan harga minyak menimbulkan potensi inflasi di atas selang, memotret pada risiko ekonomi makro. Kebijakan Fed yang direncanakan masih menjaga suku bunga tetap tinggi, memaksa pasar agar tetap menahan ekspektasi pelonggaran signifikan. Kendati inflasi konsumen dan produsen di AS menunjukkan tren menurun, tekanan energi global menjadi moderat menimbulkan dinamika tindak lanjut kebijakan moneter AS. Dalam konteks ini, rupiah harus saja tetap tangguh, menjaga stabilitas kurs melalui kombinasi dukungan domestik dan kebijakan luar negeri yang tegas.

Artikel Terkait

0