Coinbase: Family Office Timur Tengah Borong Bitcoin Saat Harga Turun

[BeritaLokal], Jakarta – Di tengah koreksi harga Bitcoin yang mencapai hampir 50% dari puncak siklus sebelumnya, investor institusi besar di Timur Tengah, khususnya kelompok family office di Uni Emirat Arab (UEA), pemerintah, serta dana kekayaan negara, justru memanfaatkan momen ini untuk menambah eksposur terhadap aset kripto terbesar di dunia. Hal ini diungkapkan secara eksplisit oleh John D’Agostino, Kepala Strategi Coinbase Institutional, dalam wawancara yang dilakukan pada Selasa (9/6/2026), menurut data dari CoinMarketCap.

D’Agostino, yang baru saja tiba dari Timur Tengah, menyatakan bahwa investor institusi tersebut tidak merasa kecewa dengan harga diskon yang ditawarkan. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai peluang strategis untuk memperbesar posisi investasi mereka. “Saya baru saja turun dari pesawat dari Timur Tengah dan saya bisa mengatakan bahwa family office di UEA, pemerintah, serta dana kekayaan negara yang telah berupaya masuk ke kelas aset ini tidak merasa kecewa karena bisa membelinya dengan harga diskon,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa investor besar tetap memegang sikap jangka panjang terhadap Bitcoin, bahkan dalam kondisi volatilitas tinggi. Mereka tidak bereaksi secara emosional terhadap tekanan pasar, melainkan memanfaatkan koreksi sebagai titik masuk yang menarik. Menurut D’Agostino, ini disebabkan karena para investor telah berinvestasi bertahun-tahun dalam membangun sistem kepatuhan dan infrastruktur penyimpanan aset digital yang sesuai dengan regulasi ketat.

Data dari produk ETF Bitcoin menunjukkan bahwa penurunan dana yang tersimpan dalam ETF hanya sekitar 15%, jauh lebih rendah dibandingkan koreksi harga Bitcoin yang mencapai 49,5%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar investor institusi memilih untuk mempertahankan kepemilikan mereka, bukan menjual aset saat pasar mengalami tekanan. “Saya melihat mereka berpikir bagaimana cara termurah untuk mendapatkan modal baru guna membeli aset yang mereka sukai saat berada di level US$ 125.000, mereka masih menyukainya di US$ 100.000, dan bahkan lebih menyukainya di US$ 65.000,” tambah D’Agostino.

D’Agostino juga menekankan bahwa risiko sistemik dan margin call yang mungkin memicu gelombang penjualan paksa di kalangan investor institusi sangat rendah. “Dari sisi institusi, saya tidak mengetahui adanya pemain besar yang menggunakan leverage berlebihan secara ekstrem,” katanya. Ia menjelaskan bahwa risiko likuidasi paksa lebih banyak terjadi di platform perdagangan luar negeri yang menawarkan fasilitas leverage tinggi kepada investor ritel.

Selain itu, D’Agostino menyoroti perkembangan regulasi dan infrastruktur pasar kripto yang semakin matang. Ia menilai bahwa fondasi industri aset digital saat ini jauh lebih kuat, karena berbagai institusi keuangan terus membangun sistem pendukung untuk perdagangan dan penyimpanan aset kripto, baik saat pasar bullish maupun bearish. Salah satu indikator penting adalah adanya tujuh rancangan undang-undang aset digital yang sedang dibahas di Kongres Amerika Serikat, yang difokuskan untuk memperjelas struktur pasar serta aturan perpajakan aset digital.

Harga Bitcoin saat ini berada di kisaran US$ 63.655, menurut data TradingView, setelah turun tajam dari puncak sebelumnya yang mencapai US$ 126.000. Koreksi sekitar 49,5% ini, menurut D’Agostino, bukanlah titik kehancuran, tetapi titik strategis yang dimanfaatkan oleh investor institusi untuk menambah eksposur aset digital yang mereka yakini memiliki nilai jangka panjang.

error: Content is protected !!