BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah memulai tahapan stabilisasi harga beras dengan rencana program BerasKita Premium dari Bulog dinilai sejalan dengan perubahan pola konsumsi masyarakat. Pengamat pangan Khudori menyebut ketersediaan cadangan beras medium hanya berisi beras klasik tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar yang semakin beragam, terutama karena permintaan beras premium meningkat pesat.
Selain itu, perubahan preferensi konsumen akibat urbanisasi, pendapatan tinggi, dan jaringan ritel modern membuat pasokan beras lebih kompleks. Dalam kajian PERHEPI 2016, konsumen berpendapatan tinggi lebih memilih beras putih, tekstur pulen, dan merek yang memiliki reputasi baik. Sementara konsumen berpendapatan rendah cenderung mengutamakan harga dan warna beras.
Pertumbuhan permintaan beras premium mencapai 11% per tahun dengan pangsa pasar sekitar 38%, sementara permintaan beras medium turun 9% per tahun, tetapi masih menguasai sekitar 60% pasar. Namun, keterbatasan jenis beras dalam cadangan pemerintah (CBP) yang hanya berisi beras medium membuat intervensi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kurang efektif.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengusulkan program BerasKita Premium sebagai solusi untuk menstabilkan harga beras premium yang terus meningkat. Program ini diharapkan mampu mengulang kesuksesan SPHP dengan memfokuskan pada kualitas dan variasi jenis beras. Rizal menyebut kepastian pelaksanaan program masih menunggu persetujuan Menko Pangan, namun harapan untuk meluncurkannya segera adalah penting untuk menghindari ketidakstabilan harga.
BerasKita Premium rencananya dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp 14.900 per kilogram, sementara beras SPHP Bulog saat ini dijual dengan harga Rp 12.500 per kilogram. Rizal mengatakan program ini dirancang untuk menstabilkan harga semua jenis beras, bukan hanya premium. “Harapan kami adalah bisa di-approve segera agar masyarakat tenang,” katanya.
Dengan adanya BerasKita Premium, pasar beras berpotensi lebih terdistribusi dan fleksibel, memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin beragam. Meski belum resmi, program ini menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan harga yang terus mengalami kenaikan.
Artikel Terkait
Menko Pangan: Koperasi Desa Tidak Bukan Supermarket
2 Juli 2026Inflasi 2026 Dipicu BBM dan Pangan: Tekanan Kenaikan Stabil
2 Juli 2026
Bos Bulog perintahkan tarik semua produk minyakita berbau solar
29 Juni 2026
Daftar Harga Pangan Hari Ini Jumat 26 Juni 2026
26 Juni 2026
Bulog dan ID FOOD Menguasai 50% Distribusi Minyakita
22 Juni 2026
Harga Pangan 16 Juni 2026: Cabai Rawit Tembus Rp 75.750 per Kg
16 Juni 2026
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Sentuh Rp 75.700 per Kg
11 Juni 2026
Airlangga Ungkap Kunci Keamanan Ekonomi Indonesia
5 Juni 2026
Memuat komentar...