Mendag Klaim Pelemahan Rupiah Tak Ganggu Daya Beli

BeritaLokal, Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan bahwa pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS, yang mencapai Rp 18.000 per dolar, tidak mengganggu daya beli masyarakat dan tetap mempertahankan ketersediaan bahan pangan serta ekspor. Pemangku kepentingan ini menyoroti bahwa meskipun rupiah melemah, aktivitas ekonomi masih berjalan dengan baik.

Selain itu, Budi Santoso menyebutkan bahwa stok pangan tetap aman dan kinerja ekspor justru berpeluang meningkat. Ia menekankan pentingnya pemantauan sisa impor bahan baku untuk menghindari gangguan pada produsen. “Enggak (terdampak pelemahan rupiah), selama ini kan masih cek-cek coba deh di lapangan,” kata Budi saat dikonfirmasi di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (4/6/2026). Dia menegaskan bahwa stok bahan pangan pokok tetap cukup memenuhi kebutuhan nasional, bahkan ada surplus. “Jadi sekarang saya sampaikan ke teman-teman, stok bahan pokok normal, artinya bahkan tadi telur aja surplus kan gitu ya,” katanya.

Pihaknya juga mengingatkan bahwa kenaikan harga barang impor memerlukan pemantauan intensif. Budi menegaskan bahwa distribusi dan importasi bahan baku tetap dipantau, serta komunikasi dengan produsen agar stok tidak terganggu. “Ya pertama dari distribusi, kemudian dari importasi bahan baku itu kita monitor, kita terus komunikasi dengan para produsen, jangan sampai itu pun terganggu gitu kan ya, jangan sampai stok enggak ada,” ucapnya.

Dalam hal ekspor, Budi menilai peluangnya makin bagus. Nilai transaksi ekspor mencapai US$ 25,30 miliar pada April 2026, naik 21,98 persen dibandingkan April 2025. Dalam periode Januari-April 2026, total ekspor berada di angka US$ 92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen. “Kita tetap naik 5,48 persen (periode) Januari-April, artinya sebenarnya kita kondisinya masih bagus dengan kondisi sekarang,” kata Budi.

Meski demikian, ia tetap mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap barang impor. Harga kedelai impor, misalnya, diklaim stabil dalam Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). “Ya, karena memang kondisinya lagi begini ya, lagi begini kondisi,” ungkapnya.

Sementara itu, surplus perdagangan terus meningkat. Nilai ekspor mencapai 20,84 miliar dolar AS pada periode Juni 2024, sebanyak 5,48 persen naik dibandingkan tahun lalu. Pada periode puasa dan Lebaran bulan keenam ini, ekspor dan impor masing-masing mengalami penurunan 18,82 persen dan 27,26 persen dibanding Mei 2017. “Kita tetap naik 5,48 persen (periode) Januari-April, artinya sebenarnya kita kondisinya masih bagus dengan kondisi sekarang,” terang Budi.

Budi menekankan bahwa keberhasilan ekspor tidak hanya tergantung pada nilai rupiah, tetapi juga pada penguatan pasokan dan efisiensi distribusi. “Itu kan bahan pakannya juga pasti naik, tapi kan tetap surplus. Bahkan harganya malah di bawah HET, sehingga harus ada penyerapan yang bagus. Jadi sebenarnya relatif bagus ya tinggal kita bagaimana mengatur antara suplai dengan permintaan,” imbuhnya.

Dalam rangka memastikan keberlanjutan ekonomi, pihak Kemendag terus monitoring kondisi pasar dan mengkoordinasikan strategi untuk mengoptimalkan kinerja ekspor. “Kita tetap fokus pada stabilitas pasokan, terutama bahan pangan dan bahan baku, agar tidak ada gangguan pada produsen,” kata Budi.

Artikel Terkait

0