BeritaLokal, Jakarta – Bahlil Bakal Lobi Pramono Anung Pakai Bus Hidrogen di TransJakarta, rencana yang berangkat dari intensif upaya pemerintah dalam menekan polusi udara serta perubahan iklim. Seorang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memanfaatkan ruang lingkup lingkup kebijakan nasional untuk mempromosikan transisi menuju kendaraan bertenaga hidrogen, yang diklaim cukup bersaing dengan kendaraan listrik dalam dekade mendatang. Rencananya bertumpu pada potensi Pasokan Hidrogen Indonesia yang belum tersuplai secara memadai, serta infrastruktur pengisian yang masih terbatas.
Menteri Energi, Bahlil Lahadalia, menerima usulan strategis dari Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, tentang peluang memanfaatkan hidrogen pada armada angkutan massal. Ketika Darmawan melaporkan bahwa PT Pertamina, melalui kerjasama internasional, kini dapat memproduksi hidrogen bersih, Bahlil menyadari potensi strategis untuk mengonversi TransJakarta menjadi sistem transportasi hijau. Ia kemudian bersemangat mengajukan lobi kepada Gubernur DKI, Pramono Anung, untuk memulai proyek ini sejak segera.
Pengembangan Bus Toyota Sora
Bahlil Bakal Lobi Pramono Anung Pakai Bus Hidrogen di TransJakarta, terkesan menyiratkan upaya kombinasi antara sektor publik dan swasta. Dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, Bahlil konsisten menekankan kesiapan PLN dan Pertamina untuk menyediakan hidrogen sekaligus infrastruktur refueling. Salah satu rencana konkret adalah bus Toyota Sora, kendaraan hidrogen berukuran kompak yang sudah digunakan di Jepang, serta varian bus dari produsen Jerman dan China yang dianggap paling realistis untuk atausek menunda roll-out di kota Jakarta.
Proposisi ini melibatkan kolaborasi berlapis: Kementerian ESDM sebagai penggerak kebijakan, PLN sebagai penyedia energi terbarukan, dan Pertamina yang akan menyalurkan pasokan hidrogen. Langkah ini juga mencakup instalasi stasiun pengisian hidrogen di sepanjang jaringan TransJakarta; hal tersebut berupaya memanfaatkan penawaran PT Pertamina yang kini bersandar pada proses elektrolis menggunakan PLTS 100 GW yang direncanakan oleh pemerintah. Dengan demikian, transisi ke bus hidrogen dapat berlangsung secara berjenjang, memperlihatkan ‘bersih plus bersih’ hasilnya.
Nilai kompetitif hidrogen kontras dengan kendaraan listrik jauh melampaui kuasa inovasi harian. Menteri energi menyiapkan petunjuk strategis, yang menggambarkan hidrogen mampu bersaing menengah dan bahkan melampaui kapasitas baterai listrik dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang. Ia berpendapat bahwa sumber energi yang bersih, khususnya dari sinar matahari yang melimpah di Indonesia, menciptakan produk air clean yang dapat memicu pembangunan industri hidrogen berbasis terbarukan. Pelancongan luar negeri meniru sistem PLTS, sehingga hidrogen dapat digenerasi mengkubu interview-champ.
Komitmen Kebijakan Energi Bersih
Sejatinya, perdebatan mengenai kesiapan kendaraan hidrogen dibandingkan kendaraan listrik telah lama menjadi topik krisis energi global sejak periode Bahlil menjabat sebagai Menteri Investasi. Dalam dialog ini, Bahlil menekankan bahwa dalam memilih jenis energi bersih yang akan didominasi, integrasi hukum dan kebijakan ke sektor transportasi harus memprioritaskan efisiensi, serta potensi tangguh proses produksi di dalam negeri. Satu prioritasnya adalah mengarahkan pola kebijakan sebagai pihak penggerak energi bersih yang dapat diproduksi di dalam negeri; ini sifatnya di sisi terdahulu karena telah ada jaminan pasokan kunci dari PLTS dan fasilitas elektrolis.
Tegasnya, realisasinya tidak akan muncul secara mendadak; melainkan harus melalui pemberian insentif fiskal dan hukum bagi produsen bus hidrogen, sementara regulator memfasilitasi perizinan dan eventual integrasi pelatihan tenaga kerja. Penerapan konsep 100 GW sebagai sumber energi bersih juga memegang peranan kuat dalam meningkatkan skala produksi hidrogen berkelanjutan, mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, dan sekaligus memberikan gambaran konkret bagi implementasi framework penurunan ketersediaan emisi karbon di sektor transportasi massal.
Ketiganya, (1) kesadaran politik, (2) dukungan industri, dan (3) komitmen energi terbarukan, membentuk fondasi pembangunan bus hidrogen yang bisa memperluas pengoperasian TransJakarta dari sore hingga subuh. Melalui koordinasi lintas lembaga dan lintas minat, fase awal lobi Bahlil akan merintis jalan kebijakan nasional menuju angkutan massal berenergi bersih, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam noble perjalanan dunia menuju mobilitas hijau.
Artikel Terkait
PLN EPI Dorong Ekosistem Hidrogen Hijau Nasional
26 Juli 2026
Pembiayaan Hijau Dipacu Perbaikan Tata Kelola BPDLH
26 Juli 2026
Purbaya Ulangi Diskusi Pertamina: BBM Subsidi dan Teknologi
24 Juli 2026
Sumur Menggala South Hasil 2.035 Barrel Minyak per Hari
24 Juli 2026
Pertamina Pimpin Upaya Sustainable Aviation Fuel di ASEAN
24 Juli 2026
Dirut Pertamina Pastikan SPBU Palembang Beroperasi Optimal
23 Juli 2026
Pertamina Patra Niaga Pastikan SPBU Palembang Optimal
23 Juli 2026
Memuat komentar...