BeritaLokal, Jakarta – Alasan Pilih Simpan Emas Di Dalam Negeri
Selain kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik dan inflasi, semakin banyak bank sentral memilih menyimpan emas batangan di dalam negeri. Hal ini mencerminkan pergeseran strategi penyimpanan aset yang lebih fokus pada stabilitas dan keamanan. Menurut survei tahunan World Gold Council (WGC) yang dilakukan antara Februari hingga Mei 2026, sebanyak 74 bank sentral mengonfirmasi meningkatkan penyimpanan emas di dalam negeri.
Ketegangan geopolitik, terutama invasi Rusia ke Ukraina dan pembekuan aset asing Rusia senilai US$ 300 miliar (Rp 5.326 triliun), menjadi pemicu krusial. “Kekhawatiran bahwa aset tersebut tidak dapat diakses di luar negeri, sejak tahun 2022, mendorong beberapa bank sentral untuk memulangkan emas yang disimpan di luar negeri,” kata Giovanni Staunovo, analis komoditas dari UBS.
Banyak bank sentral menganggap emas sebagai simbol nasional dan alat lindung nilai. Bank Prancis, misalnya, menurunkan eksposur terhadap aset AS dan meningkatkan kepemilikan emas di Eropa tanpa memindahkan batangan fisik. “Kami memperkirakan bank sentral akan membeli 750-1.000 metrik ton emas tahun ini,” kata Staunovo.
Hasil Survei
Survei menunjukkan peningkatan signifikan dalam persentase bank sentral yang meningkatkan penyimpanan domestik. Sementara 9% responden berencana meningkatkan penyimpanan emas di dalam negeri selama tahun depan, 10% lainnya memilih diversifikasi lokasi penyimpanan luar negeri. Dari survei sebelumnya, angka ini hanya mencapai 2%.
Head of Markets AJ Bell, Dan Coatsworth, menekankan pentingnya distribusi risiko dalam investasi. “Bijaksana untuk menyebar risiko, termasuk di mana aset disimpan,” katanya.
Peningkatan Cadangan Emas
Bank sentral telah membeli rata-rata 1.000 ton per tahun selama empat tahun terakhir, dua kali lipat dari dekade sebelumnya. Sebanyak hampir sembilan dari sepuluh bank sentral yang menjawab survei menilai cadangan emas global akan meningkat tahun depan. Sementara 45% memperkirakan kepemilikan mereka sendiri akan tumbuh, hanya 1% memprediksi penurunan cadangan.