BeritaLokal, Jakarta – Kuartal II 2026 tercatat sebagai periode dengan jumlah peretasan kripto terbanyak sejak era awal industri, menurut data DeFiLlama dan Coinmarketcap. Dalam periode tersebut, 83 insiden serangan siber menghantam platform kripto, menciptakan kerugian sekitar US$ 775 juta-sekitar dua kali lipat rekor sebelumnya. Meski jumlah serangan meningkat tajam, tren pergeseran dari serangan besar ke skala kecil terus berlanjut, menurut analisis platform intelijen Unfolded.
Pola serangan kini lebih bersifat frekuensi tinggi, dengan sejumlah insiden kecil yang terus-menerus. Dalam unggahannya di X (Twitter), Unfolded menyebutkan, “Alih-alih beberapa eksploitasi besar, yang terjadi adalah serangkaian serangan kecil yang terus-menerus.” Kuartal ini mengalami dua insiden terbesar dari KelpDAO dan Drift Protocol. KelpDAO mengalami kerugian sekitar US$ 293 juta karena kebocoran keamanan, sementara Drift Protocol kehilangan sekitar US$ 280 juta. Kedua kasus tersebut menyumbang lebih dari 75% kerugian kuartal.
Kerugian terbesar berasal dari celah keamanan pada jembatan lintas rantai (cross-chain bridge), dengan nilai kerugian mencapai US$ 351 juta. Pencurian kredensial administrator dan manipulasi harga token palsu juga menjadi penyebab utama insiden yang terjadi. Data CertiK menunjukkan frekuensi serangan tetap tinggi, dengan 58 insiden pada April, 60 di Mei, dan 25 hingga pertengahan Juni. Namun, sebagian besar serangan bernilai relatif kecil dibandingkan kasus-kasus besar sebelumnya.
Selain proyek aktif, kontrak pintar (smart contract) lama yang tidak lagi digunakan juga menjadi sasaran peretas. Insiden terbaru menimpa Aztec Connect dan Thetanuts Finance, yang memanfaatkan kerentanan pada kontrak lama yang tidak dikelola secara aktif. Industri kripto juga menghadapi tantangan keamanan dengan respons cepat, seperti bebaskan sebagian dana hasil peretasan dalam beberapa kasus besar.
Kerugian total di industri kripto 2026 diperkirakan mencapai US$ 1,3 miliar, menurut estimasi terkini. Meski tren pergeseran dari serangan besar ke skala kecil terjadi, industri masih menghadapi risiko tinggi dari kerentanan teknis dan keamanan yang belum sepenuhnya terpenuhi.