BeritaLokal, Jakarta – Toy Story 5 memperlihatkan bahwa teknologi bukan hanya alat yang membahayakan, tetapi juga potensi disruptif yang bisa mengubah cara kita berinteraksi dengan dunia. Film ini menyoroti kebutuhan orangtua untuk memberikan pengawasan aktif terhadap anak-anak di era digital, khususnya dalam mengelola waktu layar dan ancaman perundungan siber.
Pada cerita film, Bonnie, seorang anak perempuan yang kesulitan bermain dengan teman, diperlakukan sebagai penghalang dalam lingkungan rumahnya. Hanya ia yang tidak memiliki tablet Lilypad, sedangkan teman-temannya menggunakan gawai. Orang tua Bonnie akhirnya membelikan tablet tersebut, diisi suara oleh Greta Lee. Tidak hanya membantu Bonnie bermain dengan mainan fisik, tablet ini juga mengirim permintaan pertemanan ke beberapa anak perempuan seumuran Bonnie, yang akhirnya menerima undangan menginap.
Namun, alih-alih merasakan interaksi langsung, anak-anak tersebut tenggelam dalam layar tablet tanpa komunikasi verbal. Konflik menajam saat mereka mulai merundung Bonnie karena masih memainkan mainan jadul. Tapi, orang tua Bonnie bertindak tegas dengan mematikan akses sosial pada tablet tersebut. Fenomena ini mencerminkan realitas hari ini, di mana platform media sosial khusus anak seperti Zigazoo atau JusTalk Kids kian menjamur.
Meski dipasarkan sebagai ruang aman, dinamika sosial yang toksik dan perilaku perundungan antar-anak tetap menghantui tanpa pengawasan. Toy Story 5 mengejutkan penonton dengan menunjukkan sisi positif Lilypad-sebuah aplikasi forum di tablet yang membantu Bonnie terhubung dengan Blaze, anak perempuan lain yang gemar bermain konvensional. Tanpa teknologi, mereka mungkin tak akan bertemu.
Film ini memberikan pesan bahwa teknologi tidak bisa dilarang, tetapi harus dikendalikan melalui pendampingan dan moderasi. “Mengisolasi anak dari teknologi adalah mustahil,” kata penulis dalam sebuah wawancara. “Gawai menyediakan sarana komunikasi jarak jauh dan game edukatif, namun kuncinya bukan melarang, melainkan memantau.”
Namun, Toy Story 5 terasa kurang tajam karena gagal menggambarkan dinamika digital modern seperti Minecraft-sebuah permainan yang mengeksplorasi kebebasan imajinasi dengan kompleksitas yang bisa bertahan hingga dewasa. Era tablet membuat masa depan waralaba Pixar kian dipertanyakan. Meski tidak seikonik trilogi orisinalnya, film ini tetap menjadi alarm keras bagi orangtua: dalam mengawasi anak di era digital, kita tidak bisa lagi duduk santai di kursi belakang.
BeritaLokal, Jakarta, Toy Story 5 menunjukkan bahwa teknologi memiliki dua sisi: kekuatan dan risiko. Dengan memberikan pendekatan yang tepat, orangtua bisa memanfaatkannya untuk membantu anak-anak mengelola dunia digital tanpa terjebak dalam perundungan atau ketidaktahuan.