BeritaLokal, Jakarta – Harga emas dunia menguat sebesar 2% pada Senin (15/6/2026) setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik. Perubahan ini memicu kenaikan harga minyak, meredakan risiko inflasi, serta memengaruhi ekspektasi suku bunga.
Selain itu, dolar AS melemah 0,2% dalam sesi perdagangan, membuat logam mulia yang dihargai dalam dolar lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain. Hal ini berdampak pada penurunan risiko geopolitik dan antisipasi pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sementara itu, harga emas spot naik 2,6% menjadi US$ 4.327,82 per ons, mencapai level tertinggi sejak 5 Juni. Kontrak berjangka emas AS ditutup menguat 2,7% ke US$ 4.351,60. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan kesepakatan akan diteken resmi di Swiss pada Jumat.
Analisis dari Chief Market Blue Line Futures, Phillip Streible, menyoroti bahwa pasar emas bergerak melewati konflik dan meredakan risiko inflasi. “Kesepakatan damai menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah, dolar, dan minyak, serta mengurangi risiko inflasi,” kata Streible.
Harga emas terpaksa bergerak melemah sejak konflik AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari, mencatat penurunan sekitar 20%. Penutupan efektif Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tetap tinggi.
Pertemuan Kebijakan Federal Reserve pada 16-17 Juni akan menjadi fokus utama pasar, dengan prediksi ekspektasi suku bunga yang tergantung pada nasehat Ketua Kevin Warsh.
Sementara itu, Singapura memperkenalkan sistem kliring emas di luar bursa dan layanan penyimpanan emas bank sentral.
- Harga emas dunia naik 2% selama tiga sesi berturut-turut pada Senin.
- Kesepakatan AS-Iran akan ditandatangani di Jenewa pada Jumat.
- Dolar AS melemah 0,2%, mempercepat kenaikan harga emas.
- Harga minyak turun lebih dari 4% akibat blokade dan pembukaan Selat Hormuz.
- Pertemuan Fed akan mengungkap ekspektasi suku bunga.