BeritaLokal, Jakarta – Utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar USD 439,8 miliar atau sekitar Rp 7.784 triliun pada April 2026, menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 1,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 1,0%. Posisi utang ini terjaga meski kontraksi ULN swasta melambat.
Selain itu, ULN pemerintah tumbuh sebesar 3,7% (yoy) pada April 2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan lalu yang mencapai 3,8%. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa peningkatan ULN pemerintah dipengaruhi oleh pinjaman luar negeri yang melambat. Sementara aliran modal asing terus stabil, menunjukkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Dalam rangka memastikan stabilitas pengelolaan ULN, Bank Indonesia dan pemerintah terus koordinasi dalam pemantauan struktur utang. Posisi ULN pemerintah didominasi oleh utang jangka panjang (99,99%), dengan pangsa sekitar 22% untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Sosial, 20,5% untuk Administrasi dan Pertahanan, serta 16,2% untuk Pendidikan.
Sementara ULN swasta mengalami kontraksi pada April 2026 dengan pertumbuhan sebesar 0,7% (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan lalu yang mencapai 1,4%. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh kontraksi ULN kelompok peminjam keuangan (financial corporations) sebesar 5,0% (yoy). Struktur utang swasta terbesar berasal dari Industri Pengolahan, Jasa Keuangan, dan Pertambangan, dengan pangsa sekitar 79,6%.
Struktur ULN Indonesia tetap sehat, dengan rasio ULN terhadap PDB stabil di 29,6% pada April 2026. Utang jangka panjang menguasai posisi total ULN (84,5%), menunjukkan pengelolaan yang hati-hati. Bank Indonesia menyatakan upaya menjaga stabilitas ekonomi melalui pembiayaan sektor produktif dengan fokus pada sostenibilitas.
Kendatikan pertumbuhan ULN pemerintah lebih rendah, pemerintah tetap memperkuat koordinasi dalam mengelola utang untuk mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.