Daya Beli Kelas Menengah Tertekan, Ekonom Ungkap Pemicunya

BeritaLokal, Jakarta – Tekanan Ganda di Kelas Menengah: Faktor dan Implikasi

Kepala Pusat Makroekonomi Institut untuk Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (Indef), Rizal Taufikurrahman, mengungkapkan bahwa kelas menengah di Jakarta sedang menerima tekanan ganda dari berbagai aspek ekonomi. Dampak ini terlihat dalam peningkatan biaya-harga harian, pelemahan nilai tukar rupiah, dan perubahan suku bunga Bank Indonesia (BI).

Selain itu, kenaikan harga pangan, BBM nonsubsidi, serta penyesuaian BI Rate ke 5,50% persen menjadi faktor utama yang memperparah tekanan. “Pekerja komuter dengan konsumsi 40-60 liter per bulan bisa menghadapi tambahan pengeluaran sekitar Rp 158 ribu hingga Rp 237 ribu,” kata Rizal saat dihubungi media, Senin (15/6/2026).

Tekanan ini berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat kelas menengah, terutama para pekerja dan rumah tangga yang tidak mendapatkan bantuan sosial. Mereka harus menanggung biaya transportasi, pangan, cicilan, pendidikan, serta kebutuhan lainnya. Akibatnya, konsumsi masyarakat cenderung bergeser dari belanja sekunder seperti rekreasi atau otomotif ke kebutuhan pokok, menyebabkan sektor ritel dan jasa mengalami perlambatan.

Faktor Utama dan Dampak
Rizal menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi dan suku bunga BI menjadi tekanan ganda. Di satu sisi, biaya mobilitas meningkat, di sisi lain, bunga kredit rumah, kendaraan, serta modal usaha berpotensi naik. Jika tekanan ini bertahan lama, risiko penyusutan kelas menengah semakin besar karena banyak rumah tangga terpojok antara ketidakmampuan mendapatkan bantuan sosial dan kekayaan yang tidak cukup untuk menghadapi lonjakan biaya hidup.

Solusi: Stimulus Berpihak kepada Kelas Menengah
Menyikapi situasi ini, Rizal meminta pemerintah memberikan stimulus yang lebih berpihak kepada kelas menengah melalui kebijakan pengurangan biaya hidup (cost of living support). Contohnya, meningkatkan Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP) atau memberikan tax credit sementara bagi pekerja. Ia juga menyarankan subsidi transportasi publik dan bunga kredit untuk rumah pertama serta UMKM produktif.

Dengan cara ini, masyarakat dapat menjaga daya beli tanpa membebani APBN secara permanen. “Menjaga daya beli kelas menengah sama pentingnya dengan menjaga stabilitas fiskal,” kata Rizal. Jika tekanan terus berlanjut, perlambatan konsumsi akan menjadi risiko nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Kesimpulan
Tekanan ekonomi yang terjadi pada kelas menengah di Jakarta memerlukan kebijakan strategis untuk mencegah penurunan konsumsi dan stabilisasi perekonomian. Solusi yang dirancang oleh Rizal menekankan pentingnya stimulus berpihak tanpa mengorbankan keuangan negara.

error: Content is protected !!