BeritaLokal, Jakarta – PT Pertamina (Persero) terus memperluas usaha transisi energi bersih dalam berbagai sektor bisnisnya, termasuk sektor maritim. Dengan pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di kapal Oil Barge (OB) Patra 2303 milik PT Pertamina Trans Kontinental (PTK), perusahaan berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon hingga 79,2 ton CO₂ per tahun dan menekan konsumsi bahan bakar diesel. Proyek ini menjadi bagian dari strategi Pertamina dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
Proyek PLTS di kapal tersebut merupakan hasil sinergi antar entitas Grup Pertamina, dengan PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) sebagai pengembang solusi energi terbarukan, PTK sebagai operator armada yang didukung oleh PT Pertamina International Shipping (PIS) sebagai induk usaha. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan bahwa pemanfaatan energi surya di kapal menunjukkan kemampuan pengurangan ketergantungan pada diesel tidak hanya di darat, tetapi juga di laut.
Sistem PLTS yang dipasang memiliki kapasitas 11,5 kilowatt peak (kWp) dengan integrasi sumber daya berkapasitas 32 kWh. Energi dari panel surya digunakan untuk memenuhi kebutuhan daya auxiliary engine kapal, sehingga sebagian penggunaan bahan bakar diesel dapat digantikan oleh energi terbarukan. Direktur Perencanaan Bisnis PIS Eka Suhendra menilai pemanfaatan sumber daya bersih ini membuka peluang baru untuk mengembangkan pelayaran yang lebih ramah lingkungan.
Dengan implementasi PLTS, kapal OB Patra 2303 mampu mensubstitusi kebutuhan energi hingga enam jam operasional kapal. Perhitungan perusahaan menunjukkan potensi penghematan konsumsi bahan bakar diesel sebesar 28,08 kiloliter per tahun. Proyek ini juga menjadi langkah konkret dalam mendukung dekarbonisasi sektor maritim yang terus menghadapi tantangan emisi gas rumah kaca.
Kolaborasi antara PNRE, PTK, dan PIS menunjukkan komitmen Pertamina untuk memperluas solusi energi rendah karbon. Model serupa berpotensi diterapkan pada armada lainnya untuk menciptakan efisiensi energi di sektor pelayaran Indonesia. Proyek ini menjadi bukti bahwa transisi energi bisa berjalan melalui kolaborasi, inovasi, dan keberanian menghadirkan teknologi baru.