BeritaLokal, Jakarta – Efisiensi energi menjadi tantangan utama bagi industri manufaktur di Indonesia, terutama sektor tekstil yang menghadapi tekanan biaya listrik mencapai 15-25 persen dari total biaya produksi. CEO Trivigo, Kunadi Setiadi, menjelaskan bahwa krisis harga energi bukan hanya memengaruhi margin usaha tetapi juga kemampuan perusahaan bersaing di pasar global.
“Sebuah pabrik tidak bangkrut dalam semalam karena tagihan listrik, namun margin akan terus menyempit dari tahun ke tahun hingga perusahaan sadar bahwa mereka tidak lagi kompetitif,” kata Kunadi saat mengklaim bahwa energi menjadi fondasi utama daya saing industri.
Menurutnya, anggapan bahwa investasi energi surya masih terlalu mahal salah satu sisi yang memperburuk persepsi. “Pertanyaan sebenarnya bukan berapa biaya pemasangan, tetapi berapa biaya yang harus ditanggung jika kita tidak melakukannya,” kata Kunadi. Ia menegaskan bahwa proyek energi surya bisa mencapai pengembalian investasi dalam empat hingga enam tahun, meski manfaat jangka panjang bisa dinikmati puluhan tahun berikutnya.
Pertumbuhan pemanfaatan energi terbarukan di sektor industri juga dipandu oleh tiga faktor: regulasi yang lebih terbuka, harga teknologi panel surya semakin kompetitif, dan tekanan pasar global terhadap jejak karbon produk. “Ketiganya sedang bergerak bersamaan, dan ketika mereka sejajar, menunda keputusan justru menjadi kerugian,” kata Kunadi.
Pada periode 2026-2028, AESI memprediksi kenaikan signifikan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di sektor industri. “Kapasitas PLTS atap saat ini mayoritas digunakan oleh sektor manufaktur, namun hanya 1 persen dari potensi teknis yang besar,” ujar Ketua AESI Mada Ayu Habsari. Dalam waktu dekat, pemanfaatan energi surya di industri akan menjadi standar minimum, dengan perusahaan yang bergerak lebih awal mendapatkan keuntungan kompetitif.
Selain itu, transparansi jejak karbon dan CBAM (Carbon Border Adjustment Mechanism) di Uni Eropa semakin memperkuat ketergantungan Indonesia pada energi bersih. “Energi hijau bukan lagi sekadar isu lingkungan, tapi faktor strategis untuk akses pasar internasional,” kata Kunadi.
Dalam forum yang ditutupnya, ia menekankan bahwa transformasi ke energi terbarukan adalah waktunya sekarang. “Perusahaan yang lebih cepat dalam mengadopsi energi surya akan menikmati kompetitifitas yang sulit dikejar,” pungkas Kunadi.