Wall Street Tertekan, Bursa Asia Loyo Setelah Serangan AS ke Iran

BeritaLokal, Jakarta –

Wall Street Lesu, Bursa Asia Loyo Setelah Serangan AS ke Iran

Perang di Timur Tengah yang kembali terjadi memicu pergerakan bursa saham global. Pada perdagangan Kamis (11/6/2026), indeks saham Asia anjlok seiring koreksi Wall Street, sementara harga minyak naik karena serangan AS ke Iran. Kenaikan harga minyak Brent mencapai US$ 94,93 per barel, naik 2% dari penutupan sebelumnya.

Indeks saham Asia Pasifik MSCI turun 0,9%, dihiasi koreksi besar pada indeks Kospi Korea Selatan yang turun 3%. Nikkei terpangkas 2,13% ke 62.812,07, sementara Topix mengalami penurunan 1,69% menjadi 3.783,46.

Militer AS menyatakan telah memulai serangan baru di Iran setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melanjutkan operasi jika kesepakatan damai tidak tercapai. Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons, sementara harga minyak naik 2% sesuai harapan pasar.

Analitik menyebutkan, saham-saham Asia yang mengalami kenaikan paling tajam dua bulan terakhir berpotensi memperpanjang koreksi. Pasar meragukan apakah ekspektasi pertumbuhan pendapatan ekstrem yang mendorong kenaikan tersebut dapat dipertahankan. “Ekspektasi bullish yang ekstrem ini menciptakan latar belakang rentan bagi momentum di Korea, Taiwan, dan sektor teknologi Asia,” kata Rupal Agarwal dari Bernstein, dalam catatan terkait.

Ia menyarankan mengurangi posisi pada saham-saham tersebut sebagai langkah paling bijaksana. Ia memperkirakan peningkatan eskalasi perang dapat mempercepat penurunan koreksi ini. Sementara itu, indeks dolar AS tetap stabil di 100,03, meski terdampak oleh pembelian aset aman global.

Kontrak berjangka dana Fed memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan akhir Oktober mencapai 51,6%, menggeser peluang sebelumnya 50,1%. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun naik 2,6 basis poin menjadi 4,564%, sementara Bitcoin turun 0,5% ke US$ 61.445,19.

Kemungkinan koreksi terus berlanjut meski pasar mempertahankan ekspektasi suku bunga yang seimbang. Kenaikan harga minyak dan perubahan dinamika geopolitik menjadi faktor utama dalam tekanan pada saham Asia.

error: Content is protected !!