BeritaLokal, Jakarta – Harga minyak dunia melonjak setelah Amerika Serikat (AS) melakukan serangan militer baru terhadap Iran pada Kamis, 11 Juni 2026. Pergerakan harga minyak Brent dan WTI kembali menguat, memicu perhatian global terkait potensi konflik yang bisa berlarut-larut.
Selain itu, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi meningkat setelah AS menyerang Iran, dengan respons militer di dekat Selat Hormuz. Dalam sebuah unggahan di X (Twitter), Komando Pusat AS menyatakan pasukan Amerika telah mulai melakukan “operasi pertahanan diri tambahan” hari ini pukul 17.15 ET terhadap target di Iran, menurut pernyataan Panglima Tertinggi. Operasi tersebut diumumkan sebagai tanggapan terhadap agresi Iran yang dituduh tidak beralasan dan berkelanjutan.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan mempererat respons militer terhadap Iran, dengan menegaskan bahwa Teheran harus membayar harganya atas jangka waktu lama dalam negosiasi kesepakatan. Trump juga menyebut operasi rahasia militer AS yang mencegah harga minyak melonjak lebih tinggi, mengklaim bahwa 200 kapal komersial dan 100 juta barel minyak berhasil melewati Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran melakukan serangan rudal dan drone terhadap kapal AS di Selat Hormuz, menambah ketegangan sejak Presiden Trump memperingatkan Washington akan mengintensifkan respons militernya. Rystad Energy menyebut pasar minyak berada dalam posisi yang lebih baik untuk menyerap gangguan dibandingkan krisis sebelumnya, karena ekspor minyak mentah AS mencapai rekor, permintaan China melemah, dan rute alternatif mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.
Namun, wakil presiden senior perusahaan konsultan Rystad Energy, Jorge Leon, memperingatkan peluang terobosan diplomatik dalam waktu dekat berkurang, menyebut harga minyak rentan terhadap fluktuasi tajam karena investor mengambil risiko terhadap kebijakan militer AS.
Harga minyak Brent naik 2,52% menjadi US$ 95,45 per barel, sementara harga minyak mentah AS naik 2,94% menjadi US$ 92,68 per barel, menurut data CNBC. Pergerakan harga ini dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap ketergantungan pada Selat Hormuz dan dinamika politik antara AS dan Iran.
Sementara itu, produksi minyak mengalami penurunan yang serius setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran memengaruhi operasional ladang minyak di Irak. Rystad Energy memperkirakan kerugian produksi mencapai 1 miliar barel, dengan risiko lebih besar jika konflik berlanjut.
Ketegangan kini mengancam stabilitas pasokan global, meski harga minyak tetap terpengaruh oleh kebijakan AS dan reaksi Iran. BeritaLokal, Jakarta, Harga minyak dunia terus bergerak sesuai dinamika politik dan ekonomi internasional.
Artikel Terkait
Nilai Rupiah Turun ke 18.070 di Tengah Geopolitik
28 Juli 2026
Harga Emas Dunia Tembus 4.087, Investor Pantau Fed
28 Juli 2026
Singapura Tegkatkan Kebijakan Moneter, Tangani Minyak Pedas
27 Juli 2026
Harga Minyak Mundur 5% Setelah Iran Hentikan Serangan
27 Juli 2026
Harga Emas Dekat $4.000, Konflik Timur Tengah Turun Tarik
27 Juli 2026
Harga Minyak Turun Meski Ketegangan Timur Tengah Meningkat
25 Juli 2026
Harga Minyak Dunia Meleleh $100, Prabowo Peringatkan Belanja
24 Juli 2026
Harga Minyak Naik, Rupiah Lesu Menanggapi Gejolak Pasar
24 Juli 2026
Memuat komentar...