Hedera Gabung Koalisi 200 Organisasi, Dorong RUU Clarity ACT Disahkan

[BeritaLokal], Jakarta – Jaringan blockchain Hedera, yang telah menjadi salah satu pilar utama dalam ekosistem aset digital global, kini berada di tengah gerakan strategis besar: bergabung dengan koalisi lebih dari 200 organisasi untuk mempercepat proses legislasi RUU Digital Asset Market Clarity Act (Clarity ACT) di Senat Amerika Serikat. Gerakan ini, yang didukung oleh kelompok advokasi industri kripto Stand With Crypto, menandai salah satu mobilisasi paling signifikan dalam sejarah industri aset digital di AS, dengan tujuan utama menuntut kepastian hukum dan regulasi yang jelas bagi sektor blockchain dan kripto.

Pada 26 Mei 2026, Stand With Crypto mengeluarkan seruan resmi kepada masyarakat untuk menghubungi para senator, meminta agar RUU bernomor H.R. 3633 segera dibawa ke sidang pleno Senat. Dalam konteks ini, Hedera bukan hanya sebagai mitra teknologi, tetapi sebagai pendorong strategis yang menggabungkan kepentingan keamanan data, kepatuhan hukum, dan inovasi ekosistem digital. Pemimpin jaringan ini menyatakan bahwa keberadaan regulasi yang jelas adalah fondasi penting bagi pertumbuhan sektor aset digital di AS, terutama bagi perusahaan seperti Hedera yang telah menandatangani kerja sama strategis dengan Google, IBM, dan FedEx.

Clarity ACT, yang masih dalam tahap legislatif, mencakup berbagai aspek kritis: pengaturan kejahatan keuangan, perlindungan pengembang DeFi, standar tokenisasi aset, hak kepemilikan pelanggan, hingga pembatasan imbal hasil stablecoin. Keterlibatan legislatif ini bukan sekadar tanda keberadaan kebijakan, tetapi juga pengakuan bahwa sektor ini telah siap untuk beroperasi dalam lingkungan hukum yang transparan dan terprediksi.

Langkah penting terjadi pada pertengahan Mei, ketika Komite Perbankan Senat meloloskan RUU tersebut dengan hasil bipartisan: 15 suara mendukung, 9 menolak. Dua senator Demokrat yang turut mendukung menunjukkan bahwa dewan legislatif telah mulai mengakui potensi risiko dan keuntungan dari kripto, serta bahwa konsensus bisa tercapai bahkan di tengah perbedaan ideologi. Ini menjadi pendorong utama bagi gerakan berikutnya: membawa RUU ke tahap pleno Senat.

Namun, tantangan tetap ada. Untuk melewati tahap legislasi, RUU tersebut membutuhkan minimal 60 suara di Senat, dan waktu yang tersedia sangat terbatas, hanya sekitar delapan minggu sebelum masa reses musim panas pada Agustus 2026. Selain itu, masih ada perdebatan yang membelah pihak-pihak berkepentingan, terutama mengenai ketentuan etika yang melarang pejabat tinggi memiliki kepentingan finansial dalam aset digital.

Bagi Hedera dan token natifnya HBAR, Clarity ACT berpotensi menjadi pendorong besar. Regulasi ini diperkirakan akan mengklasifikasikan sejumlah aset digital sebagai komoditas, sehingga pengawasan akan dipindahkan dari SEC ke CFTC, sebuah perubahan yang dapat mengurangi risiko hukum bagi perusahaan yang beroperasi dalam ekosistem yang sangat dinamis. Analis menilai ini akan memperkuat posisi Hedera, yang telah membangun ekosistem yang dipercaya aman, terpercaya, dan terintegrasi dengan perusahaan raksasa.

Koalisi pendukung Clarity ACT, termasuk Hedera, telah memperkuat tekanan politik dan publik dengan menyampaikan pesan jelas: waktu semakin berlalu, dan keputusan harus segera diambil. Dengan demikian, gerakan ini bukan sekadar ajakan politik, tetapi juga upaya sistematis untuk memastikan bahwa sektor blockchain dan aset digital tidak hanya berkembang, tetapi berkembang secara terstruktur, berkelanjutan, dan berbasis regulasi yang jelas.

error: Content is protected !!