[BeritaLokal], Jakarta – Dalam langkah strategis yang menunjukkan kekuatan dominan di bidang kecerdasan buatan (AI), OpenAI, perusahaan yang dihelm oleh CEO Sam Altman, telah mengajukan permohonan penawaran saham perdana (IPO) secara rahasia kepada Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC), mengikuti jejak Anthropic yang juga memasuki tahap pengajuan IPO tersembunyi. Informasi ini disampaikan oleh CNBC pada Selasa, 9 Juni 2026, dan menandai titik kritis dalam evolusi industri AI global yang sekarang berada di ambang transisi dari perusahaan swasta ke pasar publik.
Dengan valuasi yang mencapai US$ 852 miliar (sekitar Rp 15,5 triliun), OpenAI telah menjadi salah satu entitas paling berharga di dunia, setelah peluncuran ChatGPT pada 2022 yang membuka era baru dalam interaksi manusia dengan teknologi. Sejak itu, perusahaan ini telah berkembang dari startup inovatif menjadi pemain global yang menggerakkan ekonomi digital dan teknologi, dengan lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan. Namun, tantangan eksternal tidak bisa diabaikan: persaingan ketat dari Anthropic, Google, dan SpaceX, yang baru saja bergabung dengan xAI, semakin memperketat tekanan pasar, menunjukkan bahwa perusahaan AI tidak lagi bergerak dalam zona eksperimental, tetapi telah masuk ke bidang kompetisi yang intens dan penuh tekanan.
OpenAI, yang telah mengumpulkan lebih dari US$ 180 miliar dalam pendanaan, saat ini berfokus pada pembangunan infrastruktur komputasi dan pengembangan model AI yang lebih canggih, menunjukkan bahwa kebutuhan finansial dan teknis mereka tetap besar. CEO Sam Altman, yang baru-baru ini mengunjungi Indonesia, menyampaikan dalam postingan blognya bahwa perusahaan sedang memasuki “fase ketiga”, yakni, fokus pada ekonomi AI yang berkelanjutan, terjangkau, aman, dan bermanfaat bagi semua kalangan. “Sekarang kita memasuki fase ketiga,” tulis Altman, “Ekonomi mulai berubah bentuk di sekitar AI. Pertanyaan utamanya sekarang adalah bagaimana membuat AI canggih berlimpah, terjangkau, aman, bermanfaat, dan cukup mudah bagi setiap orang dan organisasi untuk mendapatkan manfaat darinya.”
Untuk menghadapi tekanan ini, OpenAI telah menutup proyek-proyek sampingan seperti Sora, aplikasi video pendek, dan memfokuskan sumber daya pada produk utama seperti Codex, asisten pengkodean yang bersaing langsung dengan Claude Code dari Anthropic. Altman bahkan menyebut Codex sedang mengalami “moment seperti ChatGPT”, menunjukkan bahwa perusahaan ini masih berupaya mempertahankan posisi dominan di pasar produk AI.
Selain itu, OpenAI juga berencana memfasilitasi penawaran tender bagi karyawan, memungkinkan mereka menjual saham dengan valuasi terbaru US$ 852 miliar. Ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi tekanan likuiditas jangka pendek dan mempertahankan stabilitas internal. Perusahaan ini bekerja sama dengan bank besar seperti Goldman Sachs dan Morgan Stanley, menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kemampuan OpenAI untuk menangani proses IPO dengan profesionalisme tinggi.
Dengan Anthropic yang baru saja menutup putaran pendanaan sebesar US$ 965 miliar, serta SpaceX yang sedang mempersiapkan masuk ke pasar publik, ketiga perusahaan ini kini berada di titik krusial: mereka bersaing untuk mengeksploitasi modal besar, memperkuat posisi pasar, dan menguasai masa depan AI. Apakah OpenAI akan memilih jalur IPO yang lebih cepat, atau tetap mempertahankan status swasta untuk memperkuat kontrol internal? Jawabannya akan membentuk dinamika pasar global dan mempengaruhi arah pengembangan teknologi AI dalam beberapa tahun mendatang.