JPMorgan Sebut Strategy Perlu Membangun Cadangan Dolar

JPMorgan menyoroti aksi jual bitcoin (BTC) yang dilakukan Strategy dalam laporan Alternative Investments Outlook and Strategy.

PerbesarIlustrasi bitcoin (Foto: Unsplash/Aleksi Raisa)

, Jakarta – Analis JPMorgan menilai, Strategy milik Michael Saylor mungkin perlu kembali membangun cadangan dolar Amerika Serikat (AS) untuk memulihkan kepercayaan investor. Selain itu, hal itu juga mengurangi kekhawatiran tentang penjualan bitcoin ke depan dan kini mereka bersikap hati-hati terhadap aset digital.

Mengutip the block, Senin, (8/6/2026), keputusan Strategy baru-baru ini untuk menjual 32 bitcoin “menimbulkan kepanikan” di pasar, meskipun penjualan tersebut simbolis dan sukarela.

“Hal ini menunjukkan komitmen dan fleksibilitas perusahaan kepada pemegang saham preferen,” ujar Analis JPMorgan yang dipimpin Direktur Pelaksana, Nikolaus Panigirtzoglou dalam sebuat laporan berjudul Alternative Investments Outlook and Strategy yang dirilis Jumat pekan lalu.

Analis menuturkan, cadangan dolar AS oleh Strategy saat ini hanya mencakup sekitar 6,3 bulan pembayaran dividen. Hal itu menambah kekhawatiran investor.

“Menurut pendapat kami, pembangunan kembali cadangan dolar perusahaan mungkin diperlukan untuk memulihkan kepercayaan dan mengurangi kekhawatiran investor kalau perusahaan akan menjual lebih banyak bitcoin untuk menutupi pembayaran dividen,” kata analis.

Pada Desember, Strategy membentuk cadangan dolar AS sebesar US$ 1,44 miliar atau Rp 2.594 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.020) untuk melindungi pembayaran dividen atas saham preferen-nya dan bunga atas utang yang beredar.

Sebelumnya, pada Minggu, 7 Juni 2026, Michael Saylor, pendiri dan chairman Strategy justru mengisyaratkan pembelian bitcoin baru. Dalam platform X, ia mengunggah waktu yang tepat untuk menambah lebih banyak titik. Saat ini, Strategy memegang 843.706 bitcoin dengan rata-rata biaya US$ 75.699 atau Rp 1,36 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.020).

 

 

JPMorgan Prediksi Strategy Bakal Beli Bitcoin

PerbesarBitcoin (Foto: Jievani Weerasinghe/Unsplash)

Analis JPMorgan juga memprediksi Strategy akan terus membeli bitcoin. Analis menuturkan, jika laju pembelian tahun ini berlanjut, itu akan menyiratkan sekitar US$ 32 miliar atau Rp 576,64 triliun pembelian bitcoin pada 2026, dibandingkan sekitar US$ 22 miliar atau Rp 396,44 triliun pada 2025 dan 2024. Analis merevisi perkiraan dari US$ 30 miliar atau Rp 540,60 triliun bulan lalu.

Secara keseluruhan, para analis mengatakan paruh kedua tahun yang positif akan bergantung pada Strategy yang mengklarifikasi strateginya untuk memenuhi pembayaran dividen sebesar US$ 1,7 miliar atau Rp 30,63 triliun per tahun dan pengesahan RUU struktur pasar kripto, atau Clarity Act.

JPMorgan Melihat Peluang Kurang dari 50% RUU Kripto Disahkan 2026

Namun, para analis sekarang melihat peluang kurang dari 50% RUU tersebut disahkan tahun ini. Awal pekan ini, mereka mengatakan bahwa undang-undang tersebut mungkin hanya memiliki jendela waktu yang sempit untuk disahkan karena pemilihan paruh waktu AS semakin dekat, perdebatan tentang imbal hasil stablecoin terus berlanjut, dan hambatan utama masih ada.

Secara keseluruhan, para analis sekarang menjadi lebih berhati-hati terhadap aset digital. Dalam laporan Alternative Investments Outlook and Strategy sebelumnya yang diterbitkan pada Februari, mereka mengatakan “overweight” dan “positif” terhadap aset digital untuk 2026.

Hal ini karena harapan peningkatan lebih lanjut dalam aliran kripto yang dipimpin oleh investor institusional daripada investor ritel atau perusahaan perbendaharaan aset digital.

Selain itu, pemulihan aliran dana institusional yang prediksinya diharapkan didukung oleh peraturan kripto tambahan, termasuk Clarity Act.

 

Analis Hati-Hati

PerbesarIlustrasi bitcoin (Foto: Kanchanara/Unsplash)

Analis juga mencatat, perdagangan bitcoin sebagian besar di bawah perkiraan, faktor lain di balik sikap yang lebih berhati-hati. Perkiraan biaya produksi bitcoin turun dari US$ 90.000 atau Rp 1,62 miliar pada awal tahun menjadi US$ 77.000 atau Rp 1,38 miliar seiring dengan penurunan hashrate dan kesulitan penambangan,  sebelum kembali naik menjadi sekitar US$ 87.000 atau Rp 1,56 miliar.

Para analis juga menunjuk pada aliran modal yang lebih lemah ke aset digital tahun ini. Mereka memperkirakan total aliran masuk aset digital sekitar US$ 22 miliar atau Rp 396,4 trilium hingga saat ini, yang menyiratkan laju tahunan sekitar US$ 52 miliar atau Rp 937,04 triliun, sekitar setengah dari level yang terlihat pada 2025. Perkiraan tersebut mencakup aliran dana kripto, posisi berjangka CME, penggalangan dana modal ventura kripto, dan pembelian aset digital oleh perusahaan, termasuk akuisisi bitcoin oleh Strategy.

Meskipun bersikap hati-hati, analis mengatakan sentimen lemah saat ini di pasar kripto mungkin terbukti sebagai “sinyal kontrarian bullish ke depan.”

“Namun, paruh kedua tahun yang positif “akan bergantung pada Strategy yang mengklarifikasi strateginya [untuk] memenuhi pembayaran dividen sebesar US$ 1,7 miliar atau Rp 30,6 triliun per tahun dan pada persetujuan undang-undang struktur pasar AS yang sekarang kami perkirakan peluangnya kurang dari 50%,” ujar analis.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto.tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.




Pentas Bola Dunia 2026

  • Klarifikasi Rafael Leao Usai Diganjar Kartu Merah saat Hadapi Chile: Cuma Ingin Bela Rekan Setim1 menit yang lalu
  • Apa Alasan Lamine Yamal Selalu Memakai Perban di Tangannya?11 menit yang lalu
  • Piala Dunia 2026: Insiden Penembakan di Dekat Markas Inggris di Kansas City Timbulkan Sorotan soal Keamanan23 menit yang lalu
  • Prediksi Eks Pemain MU tentang Juara Piala Dunia 2026: Bukan Argentina atau Brasil, Prancis Jadi Favorit32 menit yang lalu
  • Update Timnas Brasil Jelang Piala Dunia 2026: Raphinha Akui Belum Capai Kondisi Terbaik37 menit yang lalu
  • Timnas Prancis dan Misi ‘Ending’ Bersama Didier Deschamps di Piala Dunia 202643 menit yang lalu
  • 2 Pemain Kunci Timnas Maroko Cedera Menjelang Piala Dunia 202651 menit yang lalu
  • Maroko dan Gelombang Kebangkitan Negara Afrika Siap Mengguncang Piala Dunia 20261 jam yang lalu
  • Menuju Piala Dunia 2026: Inggris Diminta Maksimalkan Ketajaman Harry Kane1 jam yang lalu
  • Daftar Skuad Termahal Piala Dunia 2026: Prancis Teratas, Disusul Inggris dan Spanyol1 jam yang lalu
  • Regulasi Kartu Kuning dan Kartu Merah Piala Dunia 2026: Aturan Pemutihan dari FIFA1 jam yang lalu
  • Thomas Tuchel Kritik Performa Inggris: Soroti Masalah Taktik Menjelang Piala Dunia 20261 jam yang lalu

Lihat Selengkapnya

error: Content is protected !!