IHSG terkoreksi lebih dari 36% dari puncaknya dan arus dana asing masih mencatatkan net sell yang besar.
PerbesarPekerja menatap layar monitor yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (7/2/2025). (/Angga Yuniar)
, Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih betah di zona merah meski tekanan berkurang pada sesi pertama, Senin, (8/6/2026). IHSG hari ini terjadi di tengah seluruh sektor saham tertekan dan nilai tukar rupiah berada di 18.100 terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip data RTI, IHSG hari ini turun 2,87% menjadi 5.434,30. Indeks saham LQ45 turun 2,77% menjadi 542,31. Seluruh indeks saham acuan tertekan.
Merespons hal tersebut, Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana, menilai tekanan yang terjadi pada pasar keuangan Indonesia saat ini memang menunjukkan adanya proses repricing atau penyesuaian ulang terhadap risiko Indonesia di mata investor global.
“Ketika rupiah terus melemah, IHSG terkoreksi lebih dari 36% dari puncaknya, dan arus dana asing masih mencatatkan net sell yang besar, pasar pada dasarnya sedang menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia,” kata Hendra kepada, Senin (8/6/2026).
Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, investor tidak hanya melihat potensi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menilai seberapa besar risiko yang harus mereka tanggung.
Risiko yang paling menjadi perhatian saat ini bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi yang melambat, melainkan meningkatnya ketidakpastian terhadap arah kebijakan, keberlanjutan fiskal, stabilitas nilai tukar, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar.
Ia menjelaskan, ketika tingkat ketidakpastian meningkat, investor cenderung meminta kompensasi berupa valuasi yang lebih murah sebelum kembali masuk ke pasar.
Faktor Global Tak Hanya Jadi Pendorong Utama Pelemahan IHSG
PerbesarPejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (/Angga Yuniar)
Hendra menjelaskan, jika beberapa tahun lalu faktor global sering menjadi penjelasan utama pergerakan pasar Indonesia, saat ini pengaruh faktor domestik justru semakin besar.
“Memang benar bahwa kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi, penguatan dolar AS, dan ketegangan geopolitik global tetap memberikan tekanan terhadap seluruh negara berkembang,” ujarnya.
Namun, yang membedakan kinerja masing-masing negara adalah bagaimana kondisi domestiknya. Investor saat ini mulai melakukan perbandingan antarnegara emerging market dan memilih negara yang dinilai memiliki kepastian kebijakan lebih baik, risiko fiskal lebih rendah, serta arah pembangunan yang lebih mudah diprediksi.
Oleh karena itu, ketika tekanan global terjadi bersamaan dengan munculnya berbagai pertanyaan mengenai kebijakan domestik, dampaknya terhadap Indonesia menjadi lebih besar dibandingkan negara lain yang memiliki kondisi fundamental serupa tetapi persepsi risikonya lebih rendah.
Faktor yang Memengaruhi IHSG di Zona Merah
PerbesarPekerja melintasi layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Meski terjebak di zona merah, IHSG berhasil mengakhiri perdagangan di level 5.841. (/Angga Yuniar)
Dari berbagai isu yang berkembang belakangan ini, mulai dari outlook rating, kebijakan fiskal, Danantara, hingga perubahan sejumlah regulasi, faktor yang paling memengaruhi persepsi investor sebenarnya adalah tingkat kepastian dan konsistensi kebijakan. Investor pada dasarnya dapat menerima berbagai kebijakan baru selama arah, tujuan, dan tata kelolanya jelas.
Namun, pasar cenderung memberikan respons negatif ketika muncul ketidakjelasan mengenai implikasi fiskal jangka panjang, mekanisme pengelolaan aset negara, potensi konflik kepentingan, maupun perubahan regulasi yang dianggap terlalu cepat atau kurang dikomunikasikan dengan baik.
“Dalam dunia investasi, ketidakpastian sering kali lebih ditakuti dibandingkan berita buruk itu sendiri. Investor dapat menghitung risiko apabila datanya jelas, tetapi akan cenderung mengurangi eksposur apabila sulit memperkirakan arah kebijakan ke depan,” pungkasnya.
