BeritaLokal, Jakarta – Pelemahan Nilai Tukar Rupiah dan Tekanan di Industri Petrokimia Nasional
Industri petrokimia Indonesia kini menghadapi serangkaian tantangan yang makin memprihatinkan, terutama karena pelemahan nilai tukar rupiah, peningkatan harga bahan baku global, serta kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) yang belum sepenuhnya menjamin daya saing. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Fajar Budiono, mengungkapkan bahwa industri ini sedang berjuang melawan tekanan dari produk impor murah, pelemahan kurs, serta ketergantungan pada pasokan gas yang terbatas.
Selama skema HGBT masih berjalan di kisaran USD 6-7 per MMBTU, industri petrokimia relatif mampu menjaga daya saing. Namun, penawarannya telah melonjak ke atas USD 15 hingga USD 20 per MMBTU, menempatkan Indonesia dalam posisi yang lebih ketat di pasar global. Di ASEAN, harga gas industri masih berada di bawah USD 9 per MMBTU, membuat produk dari negara lain semakin kompetitif.
“Industri petrokimia saat ini menghadapi tiga tekanan: lonjakan harga bahan baku global, pelemahan rupiah, dan keterbatasan pasokan gas,” kata Fajar di sela pekerjaan. Di tengah tekanan tersebut, produk plastik domestik mengalami kenaikan harganya sekitar 40-60 persen pada April 2026, menurut Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet.
Pelemahan nilai tukar rupiah juga mendorong biaya impor naik, tetapi efeknya terbatas karena persaingan ketat dengan produk impor. “Industri hulu tidak bisa pass-through harga secara penuh, karena mereka tidak ingin menurunkan harga,” kata Fajar. Industri hilir, seperti converter, mengimpor bahan baku saat harga tinggi, tetapi kenaikan harga pasar justru mengalami koreksi tajam setelah barang tiba di Indonesia.
Selain itu, masuknya produk impor murah dari China menekan margin keuntungan perusahaan lokal. Sejumlah pabrik mulai menyesuaikan tingkat utilisasi produksi hingga 75 persen, meski hal ini menggerus margin yang cukup besar. “Kita harus mengorbankan margin demi mempertahankan pasar,” ujar Fajar.
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga nafta lebih dari 50 persen dibanding sebelumnya, menambah tekanan pada industri petrokimia. Keterbatasan pasokan gas industri, terutama akibat permintaan meningkat, juga menyebabkan perbedaan harga antara produk lokal dan impor.
Dengan kombinasi faktor-faktor ini, industri petrokimia Indonesia kini harus berjuang melawan tantangan ekonomi global yang makin kompleks.
Artikel Terkait
Pemerintah Bebas Bea Masuk Suku Cadang Pesawat dan LPG
25 Juli 2026
Inflasi Inti Singapura Naik 1,6% Karena Biaya Energi
23 Juli 2026
Orang Kaya Indonesia 2026 Daftar Forbes 10 Peternar Terbesar
19 Juli 2026
Minyak Irak Lintasi Suriah Menyalurkan Ribuan Truk
19 Juli 2026
Pertamina EP Jual Gas Bumi Sengeti Jambi Rp 1,6 Triliun
17 Juli 2026
Impor Plastik Murah Bakar Industri Lokal
17 Juli 2026
Menteri Akui Risiko PHK di Berbagai Sektor Industri
23 Juni 2026
Israel Serang Pabrik Petrokimia dan Lokasi Peluncuran Rudal Iran
8 Juni 2026
Memuat komentar...