BEI: Fundamental Emiten Kuat, Ini Dapat Jadi Landasan Berinvestasi

BEI mengimbau kepada investor untuk selalu melakukan cek dan cross-check berbagai informasi yang beredar.

PerbesarPelaksana Tugas (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, Kamis, (4/6/2026). (Foto:/Immanuel Christian)

, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai, kondisi fundamental perusahaan tercatat atau emiten masih solid di tengah dinamika pasar yang terjadi belakangan ini. Kinerja keuangan emiten yang terus bertumbuh dinilai menjadi dasar penting bagi investor dalam mengambil keputusan investasi.

Pelaksana Tugas (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan seluruh perusahaan tercatat mencatatkan pertumbuhan laba yang kuat sepanjang 2025.

“Kalau kita mencermati laporan keuangan yang telah disampaikan seluruh emiten hingga akhir 2025, perusahaan tercatat membukukan pertumbuhan laba lebih dari 21%,” ujar Jeffrey di Kantor Bursa Efek Indonesia, Selasa (4/6/2026).

Kinerja tersebut berlanjut pada awal tahun ini. Berdasarkan data kuartal I 2026, kelompok saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 29,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tak hanya itu, proporsi perusahaan yang mencetak keuntungan juga mencapai level tertinggi dalam lima tahun terakhir. Dari seluruh emiten yang telah menyampaikan laporan keuangan kuartal I-2026, sekitar 80% membukukan laba bersih.

Angka tersebut meningkat dibandingkan 2020 ketika hanya 63% perusahaan tercatat yang mencatatkan keuntungan. Sementara pada periode 2021 hingga 2025, persentasenya berada di kisaran 73% hingga 76%.

“Ini menunjukkan bahwa fundamental perusahaan-perusahaan tercatat saat ini dalam kondisi baik. Tentu hal ini dapat menjadi landasan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi,” kata Jeffrey.

Di sisi lain, BEI mengingatkan, investor untuk tetap memperhatikan kebijakan yang masih berlaku dalam rangka menjaga stabilitas pasar. Jeffrey menyebut sejumlah relaksasi yang diterapkan sejak tahun lalu masih dipertahankan, termasuk kebijakan buyback saham tanpa persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) serta penundaan pelaksanaan short selling.

 

 

Imbauan kepada Investor

PerbesarPelaksana Tugas (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, Kamis, (4/6/2026). (Foto:/Immanuel Christian)

Selain itu, BEI meminta, investor lebih berhati-hati terhadap berbagai informasi yang beredar di pasar, terutama yang belum terverifikasi kebenarannya.

Jeffrey menyinggung beredarnya tangkapan layar yang mengklaim bahwa indeks penyedia global MSCI menempatkan Indonesia ke dalam kategori frontier market. Menurutnya, informasi tersebut tidak benar dan berpotensi menyesatkan pelaku pasar.

“Kami mengimbau investor untuk selalu melakukan cek dan cross-check terhadap informasi yang beredar sebelum mengambil keputusan investasi,” ujarnya.


status Indonesia dalam klasifikasi pasar modal global MSCI, Jeffrey menegaskan BEI tetap optimistis Indonesia akan mempertahankan posisinya sebagai emerging market.

Menurut dia, berbagai langkah dan perbaikan yang telah dilakukan regulator maupun pelaku pasar menjadi modal kuat untuk menjaga status tersebut.

“Dari berbagai langkah konkret yang sudah dilakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi bahwa Indonesia akan tetap berada dalam kategori emerging market,” kata Jeffrey.

Penutupan IHSG pada 4 Juni 2026

Sebelumnya, tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berkurang pada perdagangan saham Kamis, (4/6/2026). Namun, IHSG ditutup di bawah level 6.000 dan seluruh sektor saham tertekan.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup turun 1,7% menjadi 5.839,78. Indeks saham LQ45 merosot 1,37% menjadi 560,91. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Pada perdagangan Kamis pekan ini, IHSG bergerak di zona merah. IHSG sempat berada di level tertinggi 5.924,50 dan level terendah 5.644,23. Sebanyak 623 saham melemah sehingga membebani. 106 saham menguat dan 85 saham diam di tempat.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai Kamis pekan ini. Total frekuensi perdagangan 2.291.822 kali dengan volume perdagangan saham 39,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 25,2 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 18.047.

Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham energi turun 0,81%, sektor saham basic merosot 0,78%, sektor saham industri terpangkas 4,07% dan catat koreksi terbesar.

Selain itu, sektor saham consumer nonsiklikal melemah 2,36%, sektor saham consumer siklikal tergelincir 1,48%, sektor saham kesehatan turun 1,81%. Lalu sektor saham keuangan terperosok 2,04%, sektor saham properti melemah 3,28%, sektor saham teknologi terpangkas 0,48%. Kemudian, sektor saham infrastruktur turun 2,34% dan sektor saham transportasi merosot 1,39%.



error: Content is protected !!