KAI Mau Tambah Jumlah KRL Rangkasbitung

beritalokal.my.id, Jakarta – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin ingin menambah jumlah kereta di lintas KRL tujuan Rangkasbitung. Dia juga berencana merombak sistem persinyalan KRL untuk memangkas waktu tunggu atau headway antarkereta.

Dua hal tersebut diperlukan untuk mengurai kepadatan KRL lintas Tanah Abang-Rangkasbitung. Mengingat okupansi puncaknya bisa mencapai 160% dari kapasitas rangkaian kereta.

Untuk menambah jumlah kereta dari stamformasi (SF) 8 dan 10 menjadi 12 kereta per rangkaian dibutuhkan penambahan daya listrik aliran atas (LAA) di lintas tersebut. Caranya, dengan menambah 11 gardu traksi listrik.

“Insya Allah dalam 2 minggu ini kami akan mulai melakukan pekerjaannya, yang pertama itu adalah peningkatan daya untuk LAA-nya. Jadi peningkatan daya untuk LAA ini tidak simple kita meningkatkan daya PLN saja, tapi harus menambah 11 gardu, gardu traksi namanya,” ungkap Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Rabu (3/6/2026).

Pasalnya, saat ini daya listrik di lintas Rangkasbitung hanya 3.000 volt, berbeda dengan lintas Bogor dan Bekasi dengan daya 4.000 volt. Keterbatasan daya itu membuat rangkaian 12 kereta tak bisa dioperasikan sehingga kapasitas angkutnya terbatas.

“Nah dengan demikian dayanya cukup, SF12 itu bisa masuk ke Tanahabang ke Rangkasbitung,” ujar dia.

 

Rombak Persinyalan

PerbesarRangkaian KRL Commuter Line berhenti di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (24/10/2022). Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berkoordinasi dengan Pemkot Bogorrencana pembangunan sky bridge yang menghubungkan Stasiun Bogor, Stasiun Paledang, dan Alun-Alun Kota Bogor. (beritalokal.my.id/Magang/Aida Nuralifa)

Selain itu, Bobby akan melakukan perombakan sistem persinyalan di lintas Rangkasbitung. Pasalnya, sistem sinyal kali ini masih menganut sistem blok tertutup sehingga membatasi jumlah rangkaian kereta dalam jarak beberapa stasiun.

“Jadi persinyalan yang di Rangkasbitung ini sudah cukup tua dan kuno, yang kita sebut itu adalah blok tertutup. Nah kita akan upgrade dulu, nanti akan menjadi blok-blok terbuka,” ucap dia.

“Blok tertutup ini Pak, 1 blok itu beberapa stasiun itu hanya boleh 1 kereta. Jadi pada saat ini itu headway yang ada di Tanah Abang-Rangkasbitung ini itu 10 menit Pak. Nah sementara kalau Bekasi itu 3-4 menit, ke Bogor juga 3-4 menit pada saat ini,” sambung Bobby.

 

Alasan KRL ke Rangkasbitung Penuh Terus

PerbesarPara pengguna KRL Jabodetabek pada jam sibuk selama Ramadan 2026. (Dok KAI Commuter)

Sebelumnya, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin mengungkap penyebab KRL tujuan Rangkasbitung kerap penuh sesak. Ternyata, rute tersebut hanya mampu melayani (stamformasi/SF) 8 dan 10 kereta dalam satu rangkaian.

Bobby mencatat, saat ini ada 1,3 juta orang per hari yang menggunakan KRL Jabodetabek. Tingkat okupansi lintas Tanah Abang-Rangkasbitung menjadi yang paling padat dengan okupansi puncak 161 persen.

“Jadi kalau kita lihat yang jalur Rangkasbitung itu sudah peak-nya sudah 161 persen pada jam sibuk. Jadi 161 persen itu kalau kita gambarkan 1 meter persegi itu isinya 8 orang,” ungkap Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (3/6/2026).

Kapasitas Angkut KRL

Sebagai perbandingan, puncak okupansi dari lintas Bogor sebesar 130 persen, dan lintas Bekasi/Cikarang sebesar 140 persen. Bisa dibilang, lintas Rangkasbitung menjadi yang terpadat dibandingkan dengan kapasitas angkutnya.

Bobby mengungkapkan ada beberapa kendala dalam kapasitas angkut di lintas Rangkasbitung tersebut. Salah satu faktornya yakni rangkaian kereta yang digunakan di lintas ini terbatas pada SF8 dan SF10, sementara di Bogor dan Bekasi sudah mampu dilayani dengan 12 kereta dalam satu rangkaian.

Kendala lainnya, daya listrik aliran atas (LAA) lintas Tanah Abang-Rangkasbitung ini hanya sebesar 3.000 volt, berbeda dengan daya listrik lintas Bogor dan Bekasi yang mencapai 4.000 volt.

“Jadi ke Rangkas ini biasanya itu kereta itu ada SF 8 dan SF 10, SF12 itu enggak bisa Pak, karena kenapa? listriknya enggak cukup, jadi listriknya itu cuma 3.000 (volt). Jadi Bogor itu 4.000, Bekasi 4.000, ke Rangkas itu cuma 3.000,” jelas Bobby.



error: Content is protected !!