beritalokal.my.id, Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona merah pada sesi kedua perdagangan saham, Rabu (3/6/2026). Tekanan IHSG hari ini terjadi di tengah seluruh sektor saham yang memerah dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencapai 17.944. Lalu investor harus bagaimana?
Mengutip data RTI, IHSG turun 4,59% menjadi 5.911,20 pada pukul 14.41 WIB. Indeks saham LQ45 tergelincir 4,09% menjadi 593,92. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.
Sesi kedua ini, IHSG berada di level tertinggi 6.213,80 dan level terendah 5.841,99. Sebanyak 719 saham melemah sehingga bebani IHSG. 45 saham menguat dan 51 saham diam di tempat.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menuturkan, selain rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level 17.922, tekanan IHSG juga didorong penyusutan surplus neraca perdagangan pada April 2026. Tercatat surplus neraca perdagangan April 2026 sekitar US$ 89,1 juta atau Rp 1,59 triliun (asumsi kurs US$ 1 terhadap rupiah di kisaran 17.920), sebagai level terendah dalam enam tahun terakhir. Nafan menilai, hal itu menunjukkan ada perlambatan dari kontribusi sektor eksternal dan menjadi penahan laju penguatan IHSG.
“Di sisi lain, para pelaku pasar mulai mencermati dan bersiap menghadapi volatilitas baru dari sentimen rebalancing indeks FTSE Russell yang dijadwalkan efektif pada 22 Juni mendatang,” kata dia saat dihubungi beritalokal.my.id.
Dari global, ia menuturkan, ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat dalam beberapa pekan terakhir serta operasi militer Israel di Lebanon mengancam gencatan senjata di antara berbagai pihak bertikai itu.
“Di sisi lain, perilisan US Nonfarm Payrolls per Mei pada akhir pekan ini juga dinantikan karena akan mempengaruhi ekspektasi arah suku bunga the Fed ke depannya,” kata dia.
Investor Harus Bagaimana?
PerbesarSebelumnya, sepanjang Senin (9/2/2026), pergerakan IHSG diwarnai penguatan 433 saham. Sementara, 252 saham melemah dan 136 lainnya stagnan. Tampak dalam foto, layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. (BAY ISMOYO/AFP)
Di tengah IHSG yang masih melemah itu, investor harus bagaimana?
Nafan menyarankan kepada investor untuk fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid. Selain itu, fokus pada saham bervaluasi murah dan terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren. “Gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” kata dia.
Adapun untuk sektor saham yang menarik dicermati saat IHSG tertekan, Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memilih sektor saham perbankan dan consumer siklikal.
Penutupan IHSG pada Sesi Pertama 3 Juni 2026
PerbesarPengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona merah pada penutupan perdagangan sesi pertama, Rabu, (3/6/2026). Analis menilai, koreksi IHSG pada sesi pertama didorong nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup turun 4,94% menjadi 5.889,48 pada sesi pertama perdagangan saham. Indeks saham LQ45 tergelincir 4,64% menjadi 590,55. Seluruh indeks saham acuan tertekan.
Pada penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 6.213,80 dan level terendah 5.876,31. IHSG tertekan di tengah 714 saham melemah. 64 saham diam di tempat dan 35 saham menguat.
Total frekuensi perdagangan saham 1.798.806 kali dengan volume perdagangan saham 26,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 14,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.915.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, koreksi IHSG didorong sentimen internal dan eksternal. Dari sentimen eksternal didorong geopolitik seiring meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sedangkan dari sentimen internal, salah satunya dipicu kurs dolar Amerika Serikat yang makin perkasa terhadap rupiah. Di tengah sentimen itu, Reydi khawatir investor makin takut masuk ke pasar saham dalam waktu dekat.
Sektor Saham
PerbesarSeorang pria melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang anjlok signifikan selama pembukaan pasar, di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta pada Rabu 13 Mei 2026. (BAY ISMOYO/AFP)
Demikian juga disampaikan, Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana. Ia menuturkan, tekanan IHSG salah satunya didorong pelemahan rupiah.
“Kami perkirakan koreksi yang terjadi Jakarta Composite Index saat ini disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” ujar Herditya saat dihubungi beritalokal.my.id.
Ia menuturkan, pergerakan IHSG juga dibebani oleh emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami auto reject atas (ARA). “Dari sisi teknikal, pergerakan JCI masih berada di fase downtrend-nya dan belum menunjukkan ada tanda pembalikan arah yang valid,” ujar Herditya.
Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 6.213,80 dan level terendah 5.876,31. Sebanyak 714 saham melemah sehingga membebani IHSG. 64 saham diam di tempat dan 35 saham menguat. Total frekuensi perdagangan saham 1.798.806 kali dengan volume perdagangan saham 26,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 14,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.919.
Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham energi turun 7,19%. Sektor saham basic susut 10,25%, sektor saham industri terpangkas 5,63%. Selain itu, sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 4,57%.
Lalu sektor saham consumer siklikal susut 3,96%, sektor saham kesehatan terperosok 5,19%, sektor saham keuangan turun 3,225. Kemudian sektor saham properti melemah 5%, sektor saham teknologi terpangkas 3,09%, sektor saham infrastruktur tergelincir 6,73% dan sektor saham transportasi merosot 5,88%.
