Penyebab Rupiah Makin Dekati 18.000 terhadap Dolar AS

beritalokal.my.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dan melemah 82 poin ke level Rp 17.921 per dolar Amerika Serikat (AS). Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menuturkan, pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal yang meningkatkan permintaan dolar AS di pasar.

Ibrahim menuturkan, penguatan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor utama yang membebani rupiah. Harga minyak WTI tercatat berada di level US$ 94,58 per barel, sementara Brent crude oil menguat ke US$ 96,72 per barel.

“Saat ini rupiah sudah melemah 82 poin di Rp 17.921. Hari ini Rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia WTI di US$ 94,58. Kemudian Brent crude oil ini pun juga mengalami penguatan di USD 96,72,” kata Ibrahim kepada Media, Rabu (3/6/2026).

Dari sisi eksternal, Ibrahim menyoroti meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu ketidakpastian global. Hubungan kedua negara kembali memanas akibat perbedaan pandanganprogram pengayaan uranium Iran.

Selain itu, potensi konfrontasi antara Iran dan Israel juga menjadi perhatian pasar. Iran disebut siap terlibat lebih jauh dalam konflik Timur Tengah menyusul berlanjutnya serangan Israel ke wilayah Lebanon Selatan. Eskalasi konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak.

Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya inflasi di Amerika Serikat akibat tingginya biaya energi, transportasi, dan logistik. Ibrahim menilai situasi ini dapat membuat Bank Sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan berpotensi menaikkannya sekali lagi pada 2026 apabila tekanan inflasi belum mereda.

“Ini yang cukup menarik ya sehingga Bank Sentral Amerika kemungkinan besar ini akan mempertahankan suku bunga dan bisa menaikkan suku bunga dalam tahun ini satu kali,” ujarnya.

Harga Minyak Tinggi Tingkatkan Permintaan Dolar AS di Dalam Negeri

PerbesarIlustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP

Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak mentah dunia turut meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Selain itu, kebutuhan devisa juga meningkat untuk pembayaran dividen perusahaan asing dan kewajiban utang yang jatuh tempo.

Ibrahim menyebutkan, besarnya kebutuhan dolar tersebut menyebabkan tekanan terhadap rupiah semakin kuat. Di saat yang sama, sebagian masyarakat juga mulai mengalihkan dana dari tabungan konvensional ke tabungan valuta asing (valas), yang semakin meningkatkan permintaan dolar di pasar domestik.

“Di sisi lain pun juga masyarakat ini sekarang terus memindahkan dananya juga ya dari tabungan konvensional menjadi tabungan valas. Ini yang membuat harga-harga juga terus mengalami pelemahan yang cukup signifikan,” pungkasnya.

 

Sempat Menguat, Rupiah Hari Ini Kembali Tertekan

PerbesarPegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (2/6/2026) hari ini ditutup melemah 34 poin di level Rp 17.839 per dolar AS, setelah ditutup menguat 76 poin di level Rp 17.805 pada perdagangan Senin, 1 Juni 2026.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu penyebab kurs rupiah semakin lemah ialah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran-AS.

Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim pembicaraan dengan Iran masih terus berlangsung, meskipun Teheran dipandang sudah apatis terhadap pesan-pesan dari Washington DC. Ketegangan ini turut diperparah oleh konflik yang melibatkan Lebanon, Israel, dan Iran.

“Ini membuat ketegangan tersendiri, sedangkan Iran sendiri menginginkan bahwa perdamaian antara Amerika dan Iran masuk juga perdamaian Lebanon,” ujar Ibrahim, Selasa (2/6/2026).

“Iran kemungkinan besar akan ikut campur dalam perang Israel-Lebanon. Ini membuat ketegangan tersendiri, membuat indeks dolar kembali mengalami penguatan yang cukup signifikan,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia juga menyoroti putusan Trump yang menandatangani proklamasi perubahan tarif impor untuk tembaga, aluminium, dan besi.

“Proklamasi tersebut menurunkan tarif untuk beberapa peralatan pertanian dari 25 persen menjadi 15 persen,” sebut dia.

 

 

Sentimen Domestik

PerbesarTeller tengah menghitung mata uang dolar AS di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (beritalokal.my.id/Angga Yuniar)

Dari sisi domestik, Ibrahim turut menyoroti penguatan harga minyak mentah dunia yang berdampak terhadap harga-harga di dalam negeri.

“Impor minyak yang begitu besar sampai 1,5 juta barel per hari berdampak terhadap permintaan dolar yang cukup tinggi,” kata dia.

Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga dinilai turut dipengaruhi oleh kebijakan penempatan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri, meskipun putusan ini sempat membuat kurs rupiah menguat pada Senin kemarin.

“Ini pun masih belum ada keputusan pasti karena kita harus melihat para eksportir Indonesia pasti ada kerja sama dengan luar negeri untuk penempatan DHE. Sehingga membuat hari ini rupiah kembali melemah cukup tajam,” tuturnya.



error: Content is protected !!