BeritaLokal, Jakarta – Beritalokal.my.id, Jakarta, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menawarkan solusi nutrisi untuk 63 juta penerima manfaat, tetapi masalah ketersediaan dan distribusi susu masih menjadi perhatian. Dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara, Kementerian Koordinator Bidang Pangan mengungkapkan tantangan yang muncul dalam penyaluran produk ini.
Kendala Packaging dan Logistik
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian, Widyastuti, menyebutkan kemasan menjadi hambatan utama. Produksi lokal masih berbasis kemasan literan atau curah, sementara MBG memerlukan paket khusus. “Banyak peternak mengalami kesulitan karena susu mereka dalam bentuk literan yang tidak cocok untuk penyaluran MBG,” katanya. Ketersediaan paket khusus perlu waktu lebih lama, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan antara permintaan dan supply.
Kapasitas Produksi Tidak Cukup
Plt Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Gunalan, menegaskan kapasitas produksi saat ini tidak mampu memenuhi 63 juta penerima. “Jumlah ini sangat besar dibandingkan dengan produksi susu di Indonesia yang belum mencukupi kebutuhan,” kata dia. Regulasi MBG menyatakan susu harus disediakan dua kali seminggu, tetapi ketersediaan masih terbatas.
Akses Logistik Terganggu
Kendala logistik juga menyeret masalah. Di daerah terpencil, transportasi dan akses jalur darat atau laut menghambat distribusi. “Beberapa wilayah tidak bisa diakses dengan baik karena ombak atau peralihan cuaca,” kata Gunalan. Hal ini menyebabkan ketersediaan susu di lokasi penyaluran terganggu, bahkan hingga produsen membatasi akses untuk keperluan MBG.
Usulan Dapur Susu: Solusi Terkini
Sementara itu, Kementan mengajukan konsep “Dapur Susu” sebagai solusi. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Makmun, menyarankan koperasi untuk memproduksi susu secara lokal dengan modal minimal Rp 5 miliar. Proyek ini dapat menyuplai sekitar 5-10 SPPG di sekitar wilayah. “Kami sudah membuat prototipe dengan skala kecil,” katanya.
Peningkatan Ketersediaan Melalui Inovasi
Dalam rangka menyelesaikan masalah, BGN terbuka pada inovasi dari ahli gizi. Jika modifikasi susu di lapangan diterima, maka produk bisa diganti untuk memastikan ketersediaan. “Kami mendukung inisiatif yang mampu meningkatkan pelayanan MBG tanpa mengorbankan kualitas,” kata Gunalan.
Dengan pendekatan ini, rencana Dapur Susu diharapkan bisa menciptakan keterjangkauan susu MBG. Namun, perlu terus dipantau perkembangan dalam pengelolaan logistik dan produksi untuk memastikan target tercapai.
Artikel Terkait
Bulog Perkuat Sistem Logistik Pangan dengan 100 Gudang Baru di Indonesia
13 Juli 2026
Pertamina Gas Meningkatkan Pasokan Energi Industri di KEK Sei Mangkei
20 Juni 2026
PLN Akan Menyerap 10 Juta Ton Biomassa di Tahun 2030
20 Juni 2026
PLN Minta Maaf: Tren Pembaruan Layanan Terus Berlanjut
20 Juni 2026
Gas Natuna Kini Mengalir Kembali ke Indonesia
19 Juni 2026
Profil Budi Setyawan Wijaya, Nakhoda Baru Pelni
19 Juni 2026
RUPS PLN Rombak Jajaran Direksi, Ini Susunan Terbarunya
18 Juni 2026
Kemendag Terbitkan Aturan Impor Baru, Ini 4 Perubahan Pentingnya
18 Juni 2026
Memuat komentar...