BeritaLokal, Jakarta – Apakah AI Bikin RAM di Smartphone Membengkak? Pertanyaan ini menjadi topik hangat setelah luncuran ribuan ponsel terbaru yang menampilkan konfigurasi memori 12 GB, 16 GB, dan bahkan 24 GB, ukuran yang dulu hanya terlihat di laptop gaming. Para penggemar dan konsumen kini bertanya‑tanya, apa sebenarnya yang memicu peningkatan drastis itu dan bagaimana dampaknya bagi pasar smartphone. Ponsel harga menengah ke atas kini tidak lagi hanya soal layar atau kamera, melainkan juga berorientasi pada kemampuan kecerdasan buatan yang semakin kompleks.
Para produsen, mulai dari Samsung, Xiaomi, hingga OnePlus, secara cepat membawa model AI “on‑device” ke dalam chipset baru. Di balik layar, AI dianggap kebutuhan mutlak untuk tetap bersaing; dibutuhkan Large Language Models (LLM) berukuran ratusan megabita, dapat dipanggil secara real‑time tanpa menunggu koneksi ke server cloud. Hal ini menjadikan memori RAM tidak hanya menjadi penyokong sistem operasi dan aplikasi, tetapi juga “otak” mini yang beroperasi 24 jam. Akibatnya, setiap ponsel dengan AI harus memesan ruang memori besar hanya untuk menampung model tersebut, sehingga RAM “diparkir” di latar belakang sementara sisanya terbagi antara media sosial, browser, dan game.
Pada waktu ini, Pasar Global DRAM memimpikan lonjakan permintaan, menambah tekanan pada rantai pasokan. Saat COVID‑19 memperlambat pembuatan semikonduktor, ketidakstabilan suplai saja sudah memicu harga DRAM melonjak lebih dari 70 %. Ketika pabrikan smartphone menambah kapasitas RAM, permintaan ini menjadi dua kali lipat, menambah spekulasi bahwa model AI merupakan penyebab utama kenaikan harga. Rumor mengatakan bahwa produsen akan menurunkan spesifikasi varian entry‑level menyesuaikan dengan kebutuhan “AI free” untuk menjaga margin keuntungan, sehingga buyer di kelas menengah ke bawah hanya akan menemukan konfigurasi 4 GB hingga 6 GB.
AI pada Ponsel Memperluas Memori
Transformasi AI ini tidak sekadar menambah kapasitas memori; ia juga mengubah cara consumer menggunakan ponsel. Seperti yang diangkat oleh ahli teknologi, AI memproses gambar, video, dan teks secara langsung pada perangkat. Fungsi ini memungkinkan aplikasi seperti editor foto, sinyal sentuhan, dan bahkan game anti‑cheat bekerja tanpa latency, memberi pengguna pengalaman yang lebih halus. Namun, sisi kurang lucunya, saat AI “mengonsumsi” RAM, sistem memaksa aplikasi lain, termasuk permainan berat, mengurangi memori yang tersisa atau bahkan memaksa ponsel menutup aplikasi secara paksa. Hal ini membuat gamer pulap kesulitan menyesuaikan preferensi perangkat mereka dengan kapasitas memori yang “terisi” oleh fungsi AI yang sering tidak sering diakses.
Pengaruhnya terlihat jelas pada segmen gaming: meski kini banyak game Android yang memerlukan “RAM big” untuk menampung aset grafis resolusi tinggi, para pembuat game juga tetap mengoptimasi kode mereka sedemikian rupa sehingga tidak membebani RAM penting. Tapi ketika AI memakan ruang, “performa” game ringan juga jatuh pada mode penghematan. Ini menjadi titik balik bagi strategi produsen; mereka sangat menekankan bahwa “ponsel AI” adalah sinyal kekinian yang tak terpisahkan dari segmen standar.
Konsumen pun tidak hanya bertanya soal margin nilai, tetapi juga kekhawatiran kompatibilitas. Contohnya, pengguna yang hobi menggali potensi LLM, seperti merangkum artikel atau membuat gambar semu, membutuhkan RAM yang memadai agar model dapat terus “berkembang” tanpa harus reboot atau mengosongkan memori. Sementara bagi yang tidak menggunakan fitur tersebut, alokasi RAM untuk AI terasa memadai, terutama bila melihat harga premium yang indeksnya semakin menjulang mencapai 15 % di atas produk sejenis.
Apakah AI Bikin RAM di Smartphone Membengkak? Jawabannya tampak jelas di balik data: dengan menambah AI on‑device, produsen benar-benar menuntut peningkatan ukuran memori. Saat model LLM menyimak setiap perintah, memori tidak lagi menjadi sekadar tempat menjalankan aplikasi, melainkan menjadi komponen inti bagi kinerja. Generasi ponsel berikutnya, disambut agitasi global, mengusung standar memori yang lebih tinggi, mengubah pola konsumsi dan menegur ulang industri smartphone.
Artikel Terkait
Windows 11 Konsumsi RAM Tinggi, Microsoft Turun Tangan
27 Juli 2026
SK Hynix Uji Coba RAM 3D untuk AI On-Device di Smartphone
25 Juli 2026
PUBG Mobile Lebih Mulus di Samsung Galaxy S26 Ultra
23 Juli 2026
Samsung Ungkap My Fan Cam Fitur Kamera Multi-Persona
23 Juli 2026
Harga z Fold8 Dimulai Rp 28,5 Juta di Indonesia
22 Juli 2026
Vivo X300 E siap meluncur spesifikasi dan fitur unggulan
21 Juli 2026
Brand PC Kini Rebutan Stok RAM CXMT, Pesanan Penuh Hingga 2027
18 Juli 2026
Z Fold 8 Kini Tanpa Garis Lipatan, Berkat Flex Titanium
16 Juli 2026
Memuat komentar...