Harga Pangan: Bawang Merah Rp43.800/Kg, Telur Rp29.300

BeritaLokal, Jakarta – Update Harga Pangan: Bawang Merah Rp 43.800/Kg, Telur Ayam Rp 29.300/Kg, meliputi data terbaru yang dikeluarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia. Pada Minggu (19 / 7 / 2026), PIHPS mencatat fluktuasi harga komoditas pokok di pasar eceran menunjukkan pola variasi, menegaskan bahwa dinamika harga masih terpengaruh oleh faktor musiman dan global.

PIHPS memuat rincian harga beberapa komoditas pokok dan bahan tambahan makanan. Total harga telur ayam ras berada di kisaran Rp 29.300 per kilogram, sementara bawang merah, komponen penting dalam masakan sehari‑hari, dipatok Rp 43.800 per kilogram. Bawang putih yang biasanya menjejaki harga bawang merah berada di kisaran 43.750 per kilogram, menunjukkan kestabilan biaya bahan dasar. Ini menandai pentingnya kontrol rantai pasok dalam menjaga pasar domestik agar tidak terpengaruh berat oleh fluktuasi global.

Harga Bawang, Telur, dan Bahan Pokok Terkini

Diantara komoditas pokok, beras tetap menjadi fokus utama. PIHPS mengelompokkan harga beras menurut kualitas serta risiko logistik. Beras berkelas bawah I dan II berada di kisaran Rp 14.750 hingga Rp 14.550 per kilogram; segmen medium I dan II berharga sekitar Rp 16.350 hingga Rp 16.150 per kilogram; sementara beras super I dan II berada di area Rp 17.650 hingga Rp 17.150 per kilogram. Seluruh kategori ini mencerminkan variasi kualitas yang berdampak langsung pada daya beli konsumen. Menurut pedagang, redistribusi stok beras masih berjalan memadai, sekaligus menurunkan potensi kenaikan harga pada musim gugur mendatang.

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis tetap menyediakan data untuk komoditas tambahan, termasuk bawang merah, bawang putih, serta tiang pokok daging dan gula. Harga gula pasir premium diserahkan pada Rp 20.300 per kilogram, sedangkan gula pasir lokal berada di Rp 19.100 per kilogram. Informasi tersebut menyoroti perbedaan margin pasar antara produk impor ataupun premium dengan produk domestik.

Protein dan Bumbu: Harga Daging, Cabai, Minyak Goreng

Bergerak ke sektor protein, daging ayam ras segar hadir di pasar dengan harga Rp 38.450 per kilogram, sementara daging sapi kualitas I dan II berada di kisaran Rp 150.600 dan Rp 141.550 per kilogram, masing-masing. Harga daging ini tetap stabil meski daya tarik konsumen menuntut variasi harga di musim hujan.

Sementara itu, bahan bumbu dapur tetap memicu ketegangan harga atas kebutuhan kuliner. Cabai merah besar terdaftar pada Rp 47.450 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting berada di Rp 46.500 per kilogram. Cabai rawit hijau dan merah mencapai Rp 53.000 dan Rp 57.250 per kilogram. Pemberhentian harga tinggi ini sebagian dipengaruhi oleh hutan hara dan kebijakan impor, menuntut survei tetap oleh pihak berwenang.

Minyak goreng, komponen penting dalam masakan serta pertambak calorie per konsumen, juga dimonitor hetak. Minyak goreng curah rata-rata menjadi Rp 20.550 per liter, sementara kemasan bermerek I dan II berada di Rp 24.200 dan Rp 23.450 per liter. Fluktuasi harga minyak global dan kebijakan fiskal menimbulkan tekanan pada penetapan harga domestik, meskipun mengalami penurunan gradual di pasar tersedia.

Inflasi dan Kebijakan Menteri Keuangan

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 sebesar 3,34 persen secara tahunan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa tekanan inflasi kini mulai mereda, mengingat kenaikan harga didominasi oleh komoditas fluktuatif seperti BBM dan beberapa pangan, bukan permintaan berlebih. Menurut Purbaya, harga minyak dunia merata turun, yang diharapkan akan menurunkan komponen BBM non‑subsidy di pasar domestik. Selain itu, kebijakan pengendalian harga komoditas musiman seperti cabai diharapkan kembali normal setelah pergerakan harga dinamis.

Sementara BPS mencatat core inflation tetap stabil pada 2,76 persen, menandakan bahwa kenaikan harga sebagian besar bersifat sementara. Purbaya menegaskan bahwa kenaikan sementara ini terkait erat dengan fluktuasi pasokan dan biaya produksi, bukan perubahan pola konsumsi. Ia menambahkan bahwa koreksi harga diciptakan secara alami seiring perubahan konjunktur dunia, sehingga tekanan inflasi tidak dianggap berkelanjutan.

Transportasi dan BBM Sebagai Penentu Inflasi Bulanan

BPS juga memecah inflasi bulanan menjadi suku mata uang. Transportasi menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 2,29 persen, diikuti oleh kenaikan harga bensin sebesar 0,21 persen. Angkutan udara dan oli mesin memberikan kontributor kecil 0,05 dan 0,01 persen, masing‑masing. Data ini menunjukkan bahwa peningkatan harga energi, meskipun masih moderat, memainkan peran penting dalam menambah beban inflasi secara keseluruhan.

Seluruh data yang disajikan oleh PIHPS dan BPS memberi gambaran lengkap mengenai dinamika harga pangan domestik. Fluktuasi harga bawang merah, telur ayam, beras, daging, hingga komoditas bumbu disertai dengan analisis kebijakan udara, BPS dan Menteri Keuangan. Informasi ini akan menjadi tolok ukur bagi kalangan ekonomi Indonesia untuk memantau kemajuan pengendalian inflasi serta menyesuaikan strategi kebijakan ekonomi guna menstabilkan daya beli konsumen.

Artikel Terkait

0