Selat Hormuz Panas, Ancaman Krisis Energi Global

BeritaLokal, Jakarta – Selat Hormuz Memanas, Siap menjadi peringatan keras bagi ekonomi global ketika Fatih Birol, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), menyuarakan resiko kemunculan krisis tenaga akibat konflik di islet tersebut. Ia menegaskan bahwa bila jalur terbatas di Selat Hormuz tetap dikunci, pasar energi utama dunia akan terurut, menekan konsumen dan produsen di negara berkembang serta menambah tekanan ekonomi di Asia. Saat ini, fluktuasi harga komoditas energi semakin memperparah ketidakpastian global yang berdampak langsung pada ketahanan ekonomi negara-negara dengan kebutuhan energi tinggi.

Selat Hormuz Memanas, Siap juga menandai intensifikasi serangan maritim kedua pihak, yang menyebabkan penurunan drastis pada lalulintas kapal komersial. Pada akhir April 2026, sebuah kontainer terlihat dekat Pulau Qeshm, menandai awal penutupan jalur utama bagi pengiriman minyak irak dan pasokan gas alam cair (LNG). Ketegangan ini tak sekadar memperburuk situasi logistik; ini juga memicu resiko terhadap pemadaman energi di dalam negeri, terutama bagi negara yang mengandalkan suntikan pasokan impor.

Birol menyoroti bahwa serangan terhadap kapal tanker raksasa mengakibatkan penurunan signifikan pada pemuatan minyak mentah yang datang dari Arab Saudi ke wilayah Teluk Persia. Organisasi Maritim Internasional (IMO) kemudian mengingatkan bahwa kondisi saat ini terlalu berbahaya bagi kapal komersial biasa untuk menavigasi Selat Hormuz. Menurut pernyataannya, “Selat tersebut harus dibuka tanpa syarat, bukan dalam hitungan bulan, melainkan dalam beberapa minggu saja.” Dengan kata lain, kebijakan PSIC dan blokade perang AS di wilayah tersebut harus segera ditepaskan untuk mengurangi kegelisahan pasar.

Harga LNG Mempengaruhi Pasar Asia

Krisis di Selat Hormuz sekaligus memicu lonjakan harga LNG di Asia, terutama menahun Juli 2026. Pasokan gas alam melalui jalur utama menurun tajam setelah tanker milik Qatar diserang pekan lalu, memaksa negara-negara importir menyesuaikan strategi pengadaan. Seluruh rantai pasokan gas diharuskan memikirkan cadangan alternatif, sementara krisis energi membuat kebijakan energi menjadi lebih volatil. Dalam konteks ini, pasar spot LNG mencapai rekor harga tertinggi, spekulasi pasokan menjadi lebih tersulit, dan kebutuhan mitigasi kenaikan harga menjadi titik fokus bagi regulator nasional.

Negara berkembang paling terpengaruh, termasuk Bangladesh, Pakistan, dan India, harus mengonsumsi lebih banyak sumber energi alternatif ketika pasokan reguler terhambat. Birol menyatakan bahwa ketahanan energi negara maju, seperti Jepang dan Korea Selatan, lebih kuat karena idokan diversifikasi sumber energi. Namun bagi pemakai utama, asap dari krisis ini jarang dihadirkan dalam kebijakan energi yang memadai, sehingga kenaikan biaya energi berdampak pada inflasi dan daya beli publik.

Pakistan, dalam proses mengatasi ketergantungan pada pasokan LNG, perlu membeli kargo darurat yang harganya mencapai US $20,70 per juta British Thermal Unit (BTU). Perusahaan LNG milik pemerintah membeli satu kali pengambilan pada tanggal 21-22 Juli dengan harga Rp 371.130 per MMBTU (asumsi kurs Rp 17.929 per dolar). Proses tender dibuka pada 15 Juli dan ditutup kembali ketika harga terahisi puncaknya. Hasilnya, Pakistan mencatat transaksi LNG termahal yang pernah dilakukan sejak 2022, sebuah langkah mendesak untuk mencegah pemadaman listrik massal dan krisis energi yang dapat memperparah ketidakstabilan nasional.

Okeasan konflik di Selat Hormuz seharusnya menjadi tonggak bagi semua pihak untuk mengembalikan jalur perdagangan ekonomi dan melindungi rantai pasokan energi global. Menara maritim dan kebijakan energi harus dijaga rendah risiko, sehing go memungkinkan stabilitas harga di pasar energi dunia. Setiap pergeseran kebijakan di pangkalan samudra ini menunggu respons cepat, karena setiap minggu penutupan menyebabkan dampak bukan hanya pada perkapalan, tetapi pada kesejahteraan sosial ekonomi seluruh pemain pasar.

Artikel Terkait

0