Harga Minyak Turun di Tengah Ketegangan Timur Tengah

BeritaLokal, Jakarta – Harga Minyak Tergelincir Usai Ketegangan di Timur Tengah Meningkat, mencerminkan ketidakpastian yang terus melanda pasar energi global, ketika dinamika politik di pusat jalur energi dunia semakin memanas. Pada Kamis, 16 Juli 2026, Brent turun 0,85 % menjadi US$ 84,23 per barel, sedangkan WTI mengamati penurunan 0,82 % menjadi US$ 78,95 per barel, memasuki zona harga di bawah US$ 85 per barel, meski masih dekat level tertinggi sejak pertengahan Juni. Kedua kontrak tersebut mencakup lebih dari 1 % kenaikan pada sesi tertinggi, menandai volatilitas yang berkelanjutan dalam sistem pasokan.

Seiring ketegangan di Selat Hormuz meluas, harga minyak tetap mengamati pergerakan yang dipengaruhi oleh ancaman langsung dari pemerintahan Iran terhadap wilayah Houthi di Yaman. Iran secara resmi menyatakan kesiapan untuk menghentikan aliran minyak Laut Merah apabila Amerika Serikat memicu serangan pada infrastruktur listrik negara tersebut, sebuah deklarasi yang mempertegas risiko gangguan simultan. Peristiwa ini digagalkan pada hari Rabu ketika serangan Amerika Serikat menargetkan fasilitas pertahanan pantai Iran, yang menambah ketegangan dan memperkecil selang negosiasi antara kedua negara.

Di sisi lain, volume petrokimia yang melintasi Bab el-Mandeb mengalami tren peningkatan drastis, mencapai 7,4 juta barel per hari pada Juni, setara dengan sekitar 7 % total produksi global. Angka ini merupakan lonjakan signifikan dibandingkan 4,2 juta barel per hari pada periode yang sama tahun lalu, menandakan pergeseran pasokan yang kuat dari wilayah ini ke pasar internasional. Konsolidasi data Kpler mengindikasikan bahwa ketegangan di daerah ini meningkatkan beban logistik, memperbesar biaya asuransi dan mempertekan arus pasokan.

Para analis memperkirakan bahwa gangguan simultan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb dapat mempercepat tekanan pada rantai pasokan global, memperbesar kekhawatiran mengenai ketersediaan kapal tanker, serta menciptakan premi asuransi yang semakin tinggi. Alex Hodes, Direktur di StoneX, menegaskan bahwa tingkat kerusakan yang signifikan di dua jalur utama ini dapat memicu kenaikan premi asuransi serta memperkeruh kondisi logistik di pasar minyak. Wael Makarem, Financial Markets Strategist Lead di Exness, juga menambahkan bahwa situasi ini menambah ketidakpastian mengenai akses ke pasokan utama wilayah tersebut.

Karena tantangan geopolitik, volume pengiriman minyak mentah dari Irak mengalami peningkatan signifikan, naik lebih dari dua kali lipat menjadi rata-rata sekitar 1,2 juta barel per hari pada paruh awal Juli. Tambahan kapasitas ini disebabkan oleh pembatasan pengiriman pada bulan-bulan sebelumnya yang kini dilepaskan seiring ketegangan di wilayah perbatasan. Namun, dinamika penting yang menurunkan volume kapal di Selat Hormuz di atas 50 % perbandingkan hari sebelumnya menunjukkan ketidakpastian yang berlangsung lebih lama.

Pengaruh Jalan Eksport di Tropis

Analisis berbasis volume menegaskan bahwa pergeseran seperti yang terjadi di Bab el-Mandeb dapat memperkuat tekanan logistik yang sudah menumpuk pada jalur ekspor minyak utama daerah itu. Bagaimana menunjukkan dinamika geopolitik di kawasan ini mempengaruhi keputusan perusahaan pengiriman, serta dampaknya bagi premi asuransi global, sesuai data yang terbuka. Kondisi pandemi yang masih belum menutup jarak jenis sektor ini di kemungkinan menunjuk

Ketegangan Rute Minyak Strategis

Dengan kedua jalur ekspor minyak utama kini berada di titik rawan, pasar menantikan perkembangan diplomasi yang mungkin memecahkan litigasi dan meneguhkan stabilitas pasokan. Kesiapan pihak ketiga seperti Houthi berperan penting dalam menentukan kelangsungan aliran logistik besar. Penauran intensif menyoroti beragam persimpangan bisnis energi dan wilayah kebijakan militer yang tingkapan berkembang.

Artikel Terkait

0