Bitcoin Turun ke US$ 60k, Pasar Kripto Berpanik

BeritaLokal, Jakarta – Harga Bitcoin kembali terjun ke US$ 60.000 setelah tekanan jual meningkat akibat konflik AS-Iran, kebijakan The Fed, hingga aksi jual Strategy. Perkembangan ini memicu investor mengambil risiko lebih tinggi dan mengejutkan pasar kripto.

Mengutip CoinMarketCap, harga Bitcoin terus bergerak di bawah level US$ 62.000 pada perdagangan Rabu kemarin, mencapai kisaran US$ 60.000 setelah tekanan jual meningkat. Kenaikan harga minyak dunia karena konflik AS-Iran yang berdampak pada pasokan energi memicu risiko inflasi, membuat Bank Sentral AS (The Fed) terus menunggu hasil pertemuan dengan ekspektasi kenaikan suku bunga.

Selain itu, perusahaan pemegang Bitcoin terbesar, Strategy, mengumumkan aksi jual senilai US$ 216 juta pada Senin. Transaksi ini dilakukan di luar program monetisasi senilai US$ 1,25 miliar yang sebelumnya diumumkan perusahaan. Investor kini khawatir aksi jual terus berlanjut karena strategi manajemen modal Strategy masih menunggu pelunasan kewajiban utama, termasuk dividen sekitar US$ 1,76 miliar dan utang konversi lebih dari US$ 3,8 miliar.

Kondisi pasar saham AS juga berdampak pada Bitcoin. Meski indeks Nasdaq mulai pulih, harga kripto tetap terjatuh karena tekanan faktor ekonomi global yang tidak terkait dengan pergerakan saham teknologi. Kenaikan Brent crude dari US$ 68 ke US$ 74 per barel dalam sepekan memperkuat risiko inflasi, mengurangi daya tarik Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai.

Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan AS-Iran telah berakhir setelah serangan militer terhadap Iran, yang dikhawatirkan akan memperparah ketegangan perdagangan global. Ketegangan ini dianggap dapat melambat pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi internasional.

Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam tiga dekade, memicu kekhawatiran investor terhadap independensi Bank Sentral Jepang (BoJ). Kondisi ini berdampak luas karena Jepang menjadi pemegang utama surat utang pemerintah AS di luar negeri. Jika tekanan terus bertahan, risiko krisis keuangan global dapat meluas.

Sementara itu, The Fed memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai 69%, meningkat dari 42% sebulan sebelumnya. Ekspektasi ini membuat Bitcoin kehilangan daya tarik karena dianggap tidak efektif sebagai instrumen lindung nilai. Kebijakan India yang mendukung pembatasan aktivitas aset kripto juga menjadi perhatian, dengan usulan melarang bank memiliki eksposur terhadap kripto untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.

Harga Bitcoin tetap terjatuh meski pasar saham AS mulai pulih. Tekanan jual yang terus berlanjut menunjukkan bahwa aset digital ini mengalami perubahan dinamika di luar pergerakan saham teknologi. Investor kini menganalisis kebijakan ekonomi global, strategi manajemen modal, dan dampak politik internasional untuk memprediksi arah harga kripto dalam waktu dekat.

Artikel Terkait

0