Rupiah Melemah karena Konflik AS dan Harga Minyak

BeritaLokal, Jakarta – Rupiah melemah 52 poin ke 18.066 per dolar AS pada Kamis pagi, mencerminkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia. Meski nilai tukar rupiah sebelumnya mengalami penurunan 0,29%, pergerakan mayoritas mata uang Asia juga terpengaruh oleh risiko investasi yang meningkat.

Selain itu, eskalasi konflik AS-Iran dikhawatirkan memperparah keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur krusial untuk distribusi minyak dunia. Serangan terbaru AS terhadap Iran, yang dilakukan setelah negara tersebut menarik konsesi penting untuk menjual minyak internasional, meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi. Harga minyak mentah naik hingga US$ 75 per barel, tekanan ini memengaruhi nilai tukar rupiah yang mengalami penurunan signifikan.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebutkan bahwa pelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan mata uang Asia yang terkait dengan ketegangan geopolitik. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran 17.975 hingga 18.125 per dolar AS pada perdagangan hari ini, meskipun kondisi ekonomi masih mengalami tekanan dari risiko inflasi yang terus bertahan. Perluasan kekhawatiran Federal Reserve (The Fed) terhadap tekanan inflasi juga menjadi faktor penting dalam pergerakan dolar AS.

Kondisi ini memperkuat prediksi pasar bahwa rupiah akan mengalami fluktuasi dalam dua pekan mendatang, terutama seiring dengan kebijakan suku bunga The Fed yang diambil berdasarkan data dari rapat FOMC periode Juni 2026. Meski demikian, para ekonom memperkirakan bahwa rupiah akan tetap stabil dalam jangka pendek, tergantung pada dinamika politik dan ekonomi global.

Kenaikan harga minyak dan ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi pendorong utama tekanan terhadap rupiah, dengan potensi dampak signifikan bagi pasokan energi dan stabilitas finansial Indonesia.

Artikel Terkait

0