BeritaLokal, Jakarta – Pemerintah memperkuat tekanan terhadap kurs rupiah yang melemah ke 18.014 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026), menggambarkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta sikap The Fed. Meski terdapat tekanan dari sisi eksternal, rupiah tetap berada di posisi lebih rendah dibandingkan level sebelumnya, menunjukkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar uang global.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS 5,5 basis poin menjadi 4,525% memperkuat tekanan pada rupiah. Sementara itu, eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang dimulai dengan serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz, berpotensi mengganggu jalur pelayaran strategis yang menjadi bagian dari pasokan energi global. Analisis pasar uang Ibrahim Assuaibi menegaskan bahwa kekhawatiran terkait perubahan pola transaksi minyak dunia semakin meningkat, dengan risiko kenaikan harga minyak di pasar internasional.
Pemerintah AS juga mencabut konsesi yang memungkinkan Iran menjual minyak di pasar global, langkah ini diperkirakan akan memperketat pasokan minyak dunia dalam beberapa pekan ke depan. Pada saat yang sama, The Fed tetap menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan pada Juli relatif kecil, meski peluang kenaikan pada September mendekati 60%. Para pedagang sekarang lebih fokus pada notulen rapat FOMC di bulan Juni, yang akan dirilis Kamis dini hari pukul 01.00 WIB, untuk memperoleh wawasan lebih lanjut tentang strategi The Fed.
Ketegangan geopolitik dan perubahan kebijakan ekonomi AS terus memengaruhi dinamika kurs rupiah. Meski terdapat tekanan dari sisi eksternal, pemerintah dan pasar masih berharap bahwa stabilitas internasional dapat dijaga untuk mencegah pergerakan mata uang yang lebih besar. Dengan demikian, kondisi pasar uang memperlihatkan kebutuhan terhadap langkah-langkah proaktif dari pihak-pihak terkait untuk menstabilkan dinamika global.
Artikel Terkait
Rupiah Naik terhadap USD karena Penambahan Cadangan Devisa
7 Juli 2026
Rupiah Melemah ke 17.992 terhadap Dolar AS: Faktor Ekonomi dan Geopolitik Menyebabkan Perubahan Kurs
6 Juli 2026
Prediksi Rupiah Pekan Depan di Tengah Dinamika Negosiasi AS
4 Juli 2026
Rupiah Penguatan ke 17.950 Imbas NFP AS Tertekan
3 Juli 2026
Rupiah Nai 18.000 per Dolar AS: Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
2 Juli 2026
Rupiah Diprediksi Menguat: Investor Pilih Aset Emerging Market
30 Juni 2026
Rupiah Menguat, Efisiensi Anggaran MBG Jadi Pendorong
26 Juni 2026
Kurs Rupiah Kembali Dekati 18.000 per Dolar AS
26 Juni 2026
Memuat komentar...