6 Fakta Ibnu Jamil Main Film Saat Aku Bersuara, Reuni dengan Marshanda Setelah 16 Tahun Pisah

BeritaLokal, Jakarta – Setelah tampil dalam sinetron “Sejuta Cinta Marshanda” pada 2010, Ibnu Jamil kembali menarik perhatian publik dengan penerbitan film “Saat Aku Bersuara” yang akan tayang di bioskop mulai 18 Juni 2026. Film ini menampilkan aktor adu akting terkenal seperti Marshanda, Rini Yulianti, Hana Malasan, dan lainnya. Kehadiran Ibnu Jamil dalam peran Adrian, Jaksa Penuntut Umum yang terlibat dalam kasus kekerasan seksual terhadap Nadia (Marshanda), menjadi momen kunci dalam proyek film ini.

Selain itu, film “Saat Aku Bersuara” juga diproduksi oleh sineas Sonu S dan menampilkan cerita tentang Nadia, seorang pengacara yang dilamar Reza (Nino Fernandez). Tragedi terjadi ketika Nadia berusaha menolong sahabatnya, Andien (Rini Yulianti), tetapi justru menjadi korban pemerkosaan. Dalam perjalanan mencari keadilan, Nadia membuat laporan yang viral dan mengambil langkah-langkah perlawanan untuk mendapatkan penuntutan yang adil.

Ibnu Jamil menekankan bahwa karakter Adrian sebenarnya adalah protagonis. Ia menyatakan, “Karakter yang unik buat saya, di tengah perfilman kita dengan berbagai tawaran peran dan genre, Adrian terasa menarik. Ya, 100 persen protagonis. Kalau lebih gampang, itu relatif. Kalau ditanya lebih suka, lebih senang antagonis belakangan ini.” Ibnu Jamil menyebutkan bahwa sejak lama ia ingin peran jaksa sebagai bagian dari karsa yang diidamkannya.

Pada wawancara eksklusif dengan Showbiz, Ibnu Jamil mengungkapkan kebahagiaan atas reuni dengan Marshanda. “Saya pernah adu akting dengan Marshanda tapi di sinetron sih, tahun 2010, ‘Sejuta Cinta Marshanda’. Untuk film, baru kali ini. Akting Marshanda top, keren, sebagai aktor tak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya,” kata Ibnu Jamil. Reuni tersebut mengingatkan ia tentang kekayaan perannya dan kesuksesan yang diwujudkan melalui peran tersebut.

Di dalam film, Adrian tidak hanya menjadi tokoh utama, tetapi juga terlibat dalam pengembangan kisah Nadia. Ibnu Jamil menyebut bahwa adegan di ruang sidang bukan “hidangan utama” film. Ia menegaskan bahwa fokusnya lebih pada perjalanan pencarian keadilan dan perlawanan Nadia, yang menjadi pilar utama cerita.

Film “Saat Aku Bersuara” juga mencerminkan tema penting tentang kemanusiaan, keadilan, dan pengambilan keputusan. Dalam proyek ini, sinetron memperlihatkan bagaimana individu berusaha mengatasi trauma dengan tindakan yang mungkin terasa sulit. Ibnu Jamil menyampaikan bahwa perannya sebagai Adrian tidak hanya tentang pertandingan akting, tetapi juga tentang emosi dan perjalanan pribadi.

Selain itu, film ini diangkat dari novel yang mengeksplorasi kompleksitas kasus kekerasan seksual. Dengan kisah Nadia dan Adrian, “Saat Aku Bersuara” menggambarkan bagaimana keterpurukan bisa menjadi pendorong untuk perubahan. Ibnu Jamil menjelaskan bahwa karakternya tidak hanya tentang tindakan, tetapi juga tentang emosi yang terdalam.

Dengan kembalinya Ibnu Jamil ke layar lebar, film “Saat Aku Bersuara” menawarkan kesempatan bagi para penonton untuk menyaksikan peran yang memperlihatkan keberanian dan penuh perjuangan. Film ini juga menjadi bagian dari karya sineas Sonu S, yang terkenal dengan cerita pendek yang menggambarkan kompleksitas realita.

Pada akhirnya, “Saat Aku Bersuara” menawarkan kesempatan bagi para penonton untuk melihat kembali peran Ibnu Jamil dalam dunia film, serta memahami makna dari cerita yang diangkat. Dengan reuni dengan Marshanda dan kisah yang mendalam, film ini berupaya menunjukkan bahwa keadilan tak hanya bisa diwujudkan melalui tindakan, tetapi juga melalui perjuangan pribadi dan pengambilan keputusan yang tepat.

Artikel Terkait

0