BeritaLokal, Jakarta – Survei terbaru menunjukkan bahwa meningkatkan penghasilan mungkin tidak cukup untuk mengatasi stres keuangan. Menurut data dari CNBC, 51% responden di AS dengan pendapatan kurang dari US$20.000 (Rp356,48 juta) merasa cemas secara keuangan, sementara 46% orang dengan pendapatan antara US$60.000-US$80.000 (Rp1,06 miliar-1,42 miliar) juga mengalami kecemasan serupa. Temuan ini menunjukkan bahwa kekayaan bersih menjadi faktor penting dalam mengurangi beban finansial.
Seorang terapis keuangan, Aja Evans, menjelaskan bahwa kekayaan yang lebih tinggi bisa membantu individu menghindari utang dan penggunaan kartu kredit, tetapi tidak selalu menghilangkan kecemasan. “Pendapatan yang lebih tinggi mungkin menurunkan beban utang, tapi rasa aman dan kemampuan mengelola risiko tetap menjadi faktor kunci,” katanya.
Dalam survei ini, 65% warga AS dengan kekayaan bersih negatif (utang lebih besar daripada aset) merasa cemas finansial. Posisi ini terus meningkat, dengan 43% dari mereka yang tidak memiliki utang dan aset serta 47% dari orang dengan kekayaan antara US$75.000-US$250.000 (Rp1,33 miliar-4,45 miliar) mengalami kecemasan serupa. Evans menekankan bahwa ketergantungan pada sumber dana yang terbatas bisa memicu ketakutan tentang kehabisan uang saat darurat.
Faktor eksternal seperti perang, ancaman AI, atau PHK juga berperan dalam meningkatkan stres finansial. Namun, peneliti menyarankan untuk tidak melakukan tindakan drastis tanpa pertimbangan. “Jika Anda merasa stres, jangan memindahkan uang secara impulsif,” kata Rasure, kepala konsultasi keuangan Beyond Finance. “Kecemasan finansial bisa muncul karena ketidakpastian, bukan karena jumlah uang yang dimiliki.”
Beban emosional terhadap uang juga memengaruhi hidup orang-orang dengan pendapatan tinggi. Sebagian besar warga AS mengalami kecemasan finansial, bahkan di kisaran kekayaan Rp8,9 miliar-14,2 miliar (US$500.000-US$800.000). “Ketakutan akan kehilangan gaji atau utang bisa membuat seseorang merasa tidak aman,” kata Rasure.
Dari data Fidelity, inflasi mulai melampaui upah, sehingga banyak konsumen bergantung pada kartu kredit. Meski demikian, peneliti menekankan pentingnya manajemen keuangan yang terstruktur dan kesadaran akan risiko finansial. “Tidak semua masalah bisa diatasi dengan uang, tapi tindakan kecil seperti mengatur tabungan, memantau utang, atau menghindari debt stacking bisa membantu,” jelas Evans.
Dengan demikian, meski penghasilan meningkat, kesehatan finansial tetap tergantung pada kemampuan mengelola risiko, kebijakan pribadi, serta kesadaran akan dampak emosional terhadap uang.
Artikel Terkait
Prabowo Panggil KSSK Dan Danantara, Tegaskan Koordinasi Kuat
27 Juli 2026
IPO chip CXMT naik 465% dan melompati Rp 216 triliun
27 Juli 2026
PPATK Blokir Rekening Judi Online Ribu, Rp 1,07 Triliun
27 Juli 2026
Harga Emas Pegadaian 27 Juli 2026 Harga dan Perbandingan
27 Juli 2026
Perry Warjiyo Resignasi Gubernur BI Sempat Bawa Kejutan
27 Juli 2026
Destry Damayanti Terangkat Plt Gubernur Bank Indonesia
27 Juli 2026
BLU Jadi Status Taman Nasional, Bebas APBN 2026
25 Juli 2026
AI Pekerjaan Menyudutkan Lowongan Kerja di Indonesia
24 Juli 2026
Memuat komentar...