Shareefa Daanish Beraksi Baru di Film Sihir Tanah Kubur

BeritaLokal, Jakarta – Shareefa Daanish Tampil Beda di Film Sihir Tanah Kubur, Tinggalkan Citra Ratu Horor menjadi pernyataan kuat bagi para penggemar yang sudah terbiasa melihat aktris ini mencintai genre horor. Pada film terbaru yang akan diputar di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 Juli 2026, Shareefa mengganti peran ancang-ancang menakutkan dengan sosok yang menekankan dukungan keluarga sebagai pondasi kehidupan. Dari sudut pandang pembuat film, pesan ini ditulis dalam plot yang melankolis namun penuh kehangatan, di mana karakter utama mengatasi rintangan hidup berkat sinergi antar anggota keluarga.

Dalam kanvas sinema “Sihir Tanah Kubur”, Shareefa memerankan seorang ibu muda yang mengarungi tantangan pribadi menjadi kunci bagi transformasi kota satelit. Menurut sutradara yang belum disebutkan namanya, peran ini dirancang untuk menyoroti pentingnya keutuhan keluarga di tengah masa-masa sulit, sekaligus memberi ruang bagi penonton mengenali dirinya bukan hanya harapannya terhadap mereka yang mengalami tragedi, tetapi juga usaha bersama keluarga dalam mengatasi masalah. Di sinilah alasan kunci di balik keputusannya melangkah keluar dari zona nyaman setelah bertahun‑tahun menjadi “Ratu Horor” di berbagai karya televisi dan film.

Pada rapat pers yang berlangsung di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Aktris mengucapkan, “Bagaimanapun support keluarga itu sangat penting. Kalau misalnya kita keluarga udah kuat, tantangan apapun bisa kita hadapin lah.” Ia menegaskan bahwa tema ini bukan hanya sekadar script, melainkan pengalaman emosional nyata yang ia jalin bersama teman selama pembuatannya. Dalam kalimat yang sederhana namun tegas, Shareefa menegaskan bahwa dia memandang film ini sebagai jembatan antara dunia personal dan profesionalnya, serta bukti bahwa dibalik setiap karakter pun ada latar keluarga yang mendukung.

Ratu Horor Menjadi Tokoh Keluarga

Tidak menunggu jangka panjang untuk menjadi “tokoh keluarga” yang berbeda, Shareefa secara eksplisit menyatakan bahwa ia tidak lagi mencari sensasi pada peran menakutkan. “Sebenarnya aku ngerasa enggak justru. Aku ngerasa e mungkin memang sebelum-sebelumnya aku banyak memerankan karakter yang menyeramkan gitu. Terus sekarang dikasih e peran yang tidak menyeramkan sama sekali,” ujarnya kepada jurnalis. Ia menambahkan bahwa menghindari efek di mana ia harus membeli balutan kostum hantu atau voiceover menyeramkan tidak mencerminkan sirkularitas menciptakan gambaran yang lebih realistis bagi dirinya. Pilihan ini dia ambil karena ia menganggap bahwa “kita pun atur waktu di mana kita tingkatkan kemampuan akting secara terfokus tanpa stres berlebih.”

kristining able to shape ideal shape of narrative. Dalam proses produksi, instruksi sutradara menuntut agar Shareefa terbuka terhadap improvisasi skrip serta kadang harus berkoordinasi langsung dengan pencipta tata suara, karena unsur magis tanah kubur harus terjalin dengan nuansa kehidupan yang berdaya. Karena digarisbawahi dengan prinsip “supernatural but relatable”, pengaturannya menekankan dialog keluarga yang memiliki nuansa intim sekaligus riskan, sekaligus menumbuhkan rangkaian emosi protagonis.

Tantangan Peran Tanpa Supranatural

Shareefa mengakui saat memerankan sosok manusia biasa bukanlah hal yang mudah, karena ia harus menyesuaikan cara mengekspresikan ketegangan keluarga tanpa makna supranatural. Ia beranggapan bahwa tantangan ini lebih subtil tetapi lebih berat secara emosional. “Dua-duanya tuh jadi setan atau karakter manusia, lah, ya? Itu ada kelebihan dan kekurangannya. Jadi kalau buat saya, dua-duanya tantangan dan dua-duanya saya suka,” ujarnya saat interview. Pada prosesnya, ia berkolaborasi dengan guru akting yang mengajarkannya teknik memvisualisasikan konflik internal tanpa menggunakan segawon efek CGI. Pendekatannya melibatkan momen eksekusi asli di set, mempraktekan dialog dengan rekan aktris, serta menirukan percampuran kebebasan hierarki dalam keluarga yang melodi.

Film ini tidak hanya menyoroti peran Shareefa. Kisah secara keseluruhan menampilkan kisah juara kemih, berpadu dengan cast pembantu. Selain Kiesha Alvaro, Ariyo Wahab, Adzwa Aurell, Revaldo, dan Rafi Sanjaya, film ini memanfaatkan sinergi tautan karakter yang tak terhitung. Dalam penjadwalan, pengaturan stop motion pada adegan tanah kubur berupaya cif, memadukan hasil gerakan nyata dan adding digital. Penikmat awal akan menerima suasana yang memampukan sekaligus mendamaikan mendalam.

Analisis singkat menunjukkan bahwa pernyataan Shareefa menegaskan dirinya bahwa film ini adalah langkah strategis bagi perkembangan karakternya. Di sinilah masa depan film eror menampung nilai penceritaan yang lebih luas, memunculkan figur vokal yang bersinonim dengan peran turnui. Hal ini juga menunjukkan keberagaman penampilan dalam industri kreatif yang semakin mengutamakan fleksibilitas. Seiring berjalannya waktu, rekam jejak Shareefa sebagai aktor diri dibangun berdasarkan komentar memberikan, dan oleh karena itu transisi ini menjadi tren positif di mata publik.

Shareefa Daanish Tampil Beda di Film Sihir Tanah Kubur, Tinggalkan Citra Ratu Horor, menandai babak baru bagi karirnya yang kini semakin merangkul tema keluarga. Film ini menjanjikan tidak hanya sensasi latar Selatan Asia klasik, tetapi juga pesan universal tentang kebersamaan yang kini melekat pada identitasnya sebagai aktris. Sehingga bagi para penonton, pengalaman menonton lebih dari sekedar hiburan; ia menjadi refleksi zamrud tentang peran masing‑masing dalam jaringan hubungan yang bila tertangani, dapat mengatasi segala badai.

Artikel Terkait

0