BeritaLokal, Jakarta – Samsung Health memperkenalkan kebijakan baru yang menarik perhatian publik, yaitu pemanfaatan data pengguna untuk pelatihan dan pemodelan kecerdasan buatan (AI). Kebijakan ini muncul sebagai bagian dari upaya perusahaan mengembangkan layanan kesehatan berbasis AI yang lebih personal dan akurat. Namun, tindakan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang privasi dan kebebasan pengguna dalam memilih apakah data pribadi mereka akan digunakan untuk meningkatkan fitur aplikasi.
Selain itu, Samsung Health kini meminta persetujuan pengguna sebelum memanfaatkan data kesehatan seperti aktivitas fisik, catatan medis, obat-obatan, dan informasi siklus menstruasi. Dalam penjelasannya, perusahaan menyebutkan bahwa data ini akan dianalisis melalui proses human review untuk memperbaiki algoritma AI yang mengenalkan fitur seperti rekomendasi olahraga, evaluasi kesehatan jantung, dan wawasan pola nutrisi. “Data kesehatan pengguna akan dimanfaatkan untuk melatih dan mengembangkan model AI, termasuk melalui proses human review,” kata sumber dalam sebuah pernyataan.
Perusahaan juga menegaskan bahwa persetujuan ini tidak bisa ditolak secara langsung tanpa memengaruhi layanan sinkronisasi data. Jika pengguna menarik persetujuannya, data kesehatan mereka akan dihapus dan tidak lagi dapat disinkronkan ke akun Samsung. “Apabila persetujuan dicabut, Samsung akan menghentikan penggunaan data untuk pelatihan AI,” kata pihak perusahaan. Namun, jika keputusan ini diwajibkan oleh hukum, data yang tersimpan di server Samsung tetap akan disimpan.
Kebijakan baru ini diperkuat oleh ambisi Samsung dalam mengintegrasikan teknologi AI lebih erat ke dalam layanan kesehatan. Sejak diluncurkan beberapa waktu lalu, Samsung Health telah menambah fitur seperti analisis tidur, evaluasi jantung, dan rekomendasi makanan berdasarkan pola hidup pengguna. Dengan pendekatan ini, perusahaan berharap memberikan panduan kesehatan yang lebih mudah dipahami dan sesuai dengan kondisi individu.
Namun, kebijakan ini tidak terlepas dari debat publik. Sejumlah pengguna mengkritik pihak Samsung karena persetujuan data tersebut dianggap bersifat sukarela. “Persetujuan itu seolah-olah memaksa pengguna untuk memberikan izin tanpa memperhatikan hak mereka,” kata seorang pengguna yang tidak merujuk pada nama nyata. Penolakan kebijakan ini akan menghilangkan salah satu fungsi penting Samsung Health, yaitu kemampuan sinkronisasi data ke akun perangkat.
Saat ini, Samsung belum memberikan penjelasan lebih lanjut tentang alasan di balik mekanisme ini atau wilayah yang menerima pembaruan. Perusahaan juga tidak menunjukkan apakah ada kebijakan tambahan yang akan diterapkan untuk mengurangi ketidaknyamanan pengguna.
Kebijakan ini menjadi sorotan karena Samsung Health semakin mengandalkan AI dalam layanan kesehatannya, yang menimbulkan pertanyaan tentang batas antara pemanfaatan teknologi dan privasi. Dalam konteks global, isu data pribadi dan kebebasan pengguna terus menjadi topik perdebatan. Samsung harus memastikan bahwa kebijakan ini diimplementasikan dengan transparansi dan menghargai hak individu dalam menentukan apakah data mereka akan digunakan untuk tujuan tertentu.
Artikel Terkait
Haruka Nakagawa Kembali Sehat Setelah Operasi Tumor
27 Juli 2026
Claude Opus 5: Model AI Mendekati Fable 5
27 Juli 2026
Kacamata Pintar Terdeteksi, Aplikasi Antizuck Peringatkan
27 Juli 2026
Indra Bruggman Ceritakan Dampak Hipertiroid Turun 15 Kg
25 Juli 2026
Instagram Blokir Akun Rekam Orang Pakai Kacamata Meta
25 Juli 2026
Selvi Kitty Ungkap Rahasia Pernikahan dan Kehamilan
24 Juli 2026
Purbaya Ulangi Diskusi Pertamina: BBM Subsidi dan Teknologi
24 Juli 2026
Inul Daratista Dirawat di ICU karena GERD, Ungkap Penyebab
24 Juli 2026
Memuat komentar...