Rupiah Nyaris Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

BeritaLokal, Jakarta – Rupiah kembali mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (3/6/2026), menembus level Rp 18.000 per dolar AS, meski masih terkubur di bawah ambang psikologis tersebut. Penurunan ini dipicu oleh kumulatif sentimen global dan domestik yang memperkuat kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi.

Selain konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi pemicu tekanan pada rupiah. Pasar menilai lonjakan harga energi memperparah risiko inflasi global dan mengarahkan investor menuju aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS. Data ekonomi AS menunjukkan pertumbuhan lowongan kerja di April 2026 mencapai level tertinggi sejak Juni 2025, memperkuat ekspektasi bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Sentimen dalam negeri juga berdampak pada rupiah. Inflasi Mei 2026 mencapai 0,28 persen secara bulanan, yang lebih tinggi dibandingkan April sebesar 0,13 persen. Kenaikan ini dipengaruhi harga pangan bergejolak, energi, dan komoditas impor yang terpengaruh oleh pelemahan rupiah. Meski demikian, Indonesia masih mencatat surplus perdagangan pada April 2026 sebesar USD89,1 juta, membuktikan ketahanan ekonomi meskipun tekanan inflasi berlangsung.

Kondisi ini disebabkan oleh pasokan global komoditas yang tersendat akibat blokade Selat Hormuz oleh Iran. Dengan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus perdagangan April 2026 terutama dipayungi sektor nonmigas yang mencatat surplus USD3,53 miliar. Namun, kenaikan inflasi dan tekanan eksternal memperkuat kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat.

Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah terus menggerus stabilitas finansial global. Operasi militer Israel di Lebanon dan serangan rudal Iran ke Kuwait serta Bahrain meningkatkan ketidakpastian dalam proses perundingan antara Washington dan Teheran. Pihak berwenang memantau dinamika pembicaraan tersebut, sementara kondisi politik dan ekonomi terus menggoyangkan pasar.

Pengamat uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa sentimen global dan domestik menjadi faktor kunci dalam pergerakan rupiah. “Kombinasi sentimen geopolitik, harga minyak, dan inflasi tetap memperkuat tekanan pada rupiah,” katanya. Pemantau pasar saat ini menunggu data ekonomi AS yang akan dirilis Jumat (5/6/2026), termasuk laporan ADP, indeks ISM, dan data pesanan pabrik, untuk memprediksi arah kebijakan The Fed.

Dengan kondisi ini, dolar AS semakin diperebutkan sebagai aset aman. Meski rupiah masih terkubur di bawah Rp 18.000 per dolar, kinerja pasar menunjukkan kekuatan ekonomi Indonesia yang tetap mempertahankan surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Namun, tekanan inflasi dan ketegangan geopolitik terus menggantungkan kesehatan ekonomi negara tersebut.

Artikel Terkait

0