Rupiah Menguat 18.068/dolar AS, Sentimen Fed Memengaruhi

BeritaLokal, Jakarta – Rupiah Menguat 18.068 per Dolar AS, Sentimen The Fed Mempengaruhi di pasar kota pada Rabu, 15 Juli 2026, menambah ketekan pada nilai tukar yang sebelumnya mengukuh 18.091 per dolar. Transaksi spot Interbank dan interbank spot rate (JISDOR) mencerminkan koreksi signifikan tersebut, sementara sentimen makro yang dipengaruhi oleh inflasi maupun geopolitik turut mempengaruhi arah rupiah.

Pada perdagangan hari itu, Rupiah ditutup menguat 23 poin atau 0,13 % menjadi 18.068 per dolar AS, menggantikan posisi terbuka 18.091 pada sesi sebelumnya. Jenjang ini tercermin juga pada JISDOR Bank Indonesia, yang juga berakhir di 18.064 per dolar AS setelah bergerak ke level 18.099 pada pembukaan. Menurut kutipan Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, nilai tukar yang diperdagangkan dipengaruhi oleh penurunan ekspektasi Fed terkait kenaikan suku bunga, yang cenderung menambah daya tarik investasi asing dan menenggelamkan tekanan likuiditas domestik. Selain itu, harga minyak dunia dan ketegangan politik di Timur Tengah memberi motivasi bagi investor untuk menyesuaikan posisi, gagal masih mengekang lebar penguatan rupiah yang lebih signifikan.

Pengaruh Inflasi AS terhadap Sentimen Pasar

Tentu saja, sentimen pasar tetap terikat pada data makro ekonomi. Rilis angka Persentase Pengangguran AS, CPI, dan Core CPI pada bulan Juni 2026 memberi sinyal bahwa inflasi konsumen tahunan menurun menjadi 3,5 %. Data tersebut berada di bawah ekspektasi pasar, dipicu oleh penurunan tajam harga energi dan pengaruh kebijakan moneter global. Inflasi bulanan turun 0,4 % saat dibandingkan Peleyar 30 Emirat, memicu perlambatan tingkat inflasi serta ketidakpastian dalam proyeksi suku bunga Fed. Bahkan, jumlah pejabat Fed yang merilis proyeksi menunjukkan adanya pendapat yang beragam: sembilan pejabat memprediksi satu kenaikan suku bunga seperempat poin, sembilan lainnya memprediksi tidak ada perubahan atau penurunan. Keberagaman pandangan ini seakan menambah kebingungan di antara pelaku pasar, sehingga memadukan nilai tukar Rupiah ke arah kekuatan pada segmen high liquidity.

Dampak Peringkat Kredit Indonesia

Sementara itu, keputusan S&P Global Ratings menjaga peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan prospek stabil tercopot lebih lanjut pada tingkah laku nilai tukar. Fluktuasi mata uang yang moderat disertai kinerja ekonomi yang stabil tetap memberi kepercayaan berkelanjutan bagi investor internasional. Namun, Buruknya situasi politik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak dunia mengancam kelangsungan peningkatan persepsi risiko terhadap ekonomi Indonesia, menurunkannya pada semua indikator makro. Perusahaan-perusahaan finansial domestik dan investor masih menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) dengan harapan tetap menahan suku bunga acuan di 5,75 %.

Penguatan Rupiah menjadi sejenak juga dipengaruhi oleh sentimen global yang melandai inflasi dan menurunkan yield obligasi pemerintah AS. Saat ini, market mencoba menyeimbangkan ekspektasi suku bunga dan likuiditas, sehingga nilai tukar dapat berfluktuasi di antara 18.000, 18.105 per dolar. Saya mengutip analis Bank Woori, Rully Nova, yang menilai bahwa istilah core CPI yang tidak berubah secara bulanan dan skenario penurunan harga minyak di bulan Juni terkait gencatan senjata AS-Iran menambah ketidakpastian masa depan.

Sementara penguatan rupiah hingga 18.068 per dolar AS belum mengakibatkan perubahan signifikan pada volatilitas pasar, namun ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global akan terus memegang kunci pengaruh nilai tukar dalam jangka menengah. Seiring data inflasi dan ekspektasi Fed terus diperbarui, pasar domestic akan terus menyesuaikan posisi, membentuk konstelasi nilai tukar yang dinamis dan tidak menentu.

Artikel Terkait

0