BeritaLokal, Jakarta – Rupiah Hampir 18.000, Cek Kurs Dolar di BCA dan BNI
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pergeseran signifikan pada hari ini. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.925 per dolar, melambatkan tren melemahnya mata uang Garuda yang terus berdampak pada kehidupan masyarakat dan sektor ekonomi. Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah masih memiliki potensi untuk menembus level Rp 18.000 per dolar AS, terutama karena dinamika geopolitik global yang belum menemukan kepastian.
Faktor Eksternal Menyebabkan Kekhawatiran
Ariston menjelaskan bahwa pemicu utama pelemahan rupiah masih berasal dari isu perdamaian antara AS dan Iran, yang terus menjadi tarik ulur. “Sentimen pasar tetap berubah-berubah karena kepastian geopolitik belum tercapai,” kata dia dalam wawancara dengan Beritalokal.my.id. Kondisi ini memperparah tekanan pada rupiah di pasar global, meski kinerja harga minyak dunia dan impor barang konsumsi juga berkontribusi.
Dampak Ekonomi: Harga Konsumsi Meningkat
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menegaskan bahwa pelemahan rupiah memicu kenaikan harga barang konsumsi karena kandungan impor yang tinggi, ditambah kenaikan harga minyak mentah dunia. “Rupiah melemah 82 poin ke Rp 17.921, seiring dengan kenaikan harga minyak WTI dan Brent crude oil,” katanya. Dampaknya terasa langsung pada daya beli masyarakat yang harus menghadapi tekanan biaya produksi lebih tinggi.
Keuntungan untuk Sektor Eksportir
Di sisi lain, pelemahan rupiah berpotensi memberikan keuntungan bagi sektor eksportir karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. “Ini bisa meningkatkan penerimaan pajak ekspor dan memperkuat pasokan dolar domestik,” kata Ariston.
Kurs Dolar Di BCA, BNI, dan BRI
Data dari bank besar menunjukkan kurs dolar AS di sejumlah bank nasional masih berada di kisaran Rp 17.900-17.930. Pada Rabu (3/6/2026), kurs beli dolar AS di BCA mencapai Rp 17.917, sementara BNI menetapkan level Rp 17.910. Bank Mandiri juga memperlihatkan kurs beli sebesar Rp 17.870. Meski rupiah terus bergerak, nilai dolar tetap mengalami tekanan di pasar spot.
Kebutuhan untuk Keseimbangan Pasar Valuta Asing
Bank Indonesia (BI) memastikan keseimbangan supply dan demand di tengah pelemahan rupiah. “Mata uang Garuda masih dalam fase pergeseran, tetapi BI akan terus memantau dinamika pasar,” kata sumber terkait.
Rupiah kini berada di level Rp 17.925 per dolar AS, menunjukkan bahwa tekanan eksternal dan internal masih mengalir. Masyarakat segera memperhatikan perubahan kurs dolar di bank lokal untuk mengantisipasi dampak pada kehidupan sehari-hari.
Artikel Terkait
Rupiah Tegar Tambah Lebih 18,093, Pasar Tunggu Gubernur BI
28 Juli 2026
Nilai Rupiah Turun ke 18.070 di Tengah Geopolitik
28 Juli 2026
Harga Emas Antam Turun Rp 9.000, Cek Lengkap 28 Juli 2026
28 Juli 2026
Minyak Dunia Turun Tajam, Pasar Mereda
28 Juli 2026
Harga Emas Dunia Tembus 4.087, Investor Pantau Fed
28 Juli 2026Gubernur BI Baru Menjaga Stabilitas Rupiah
28 Juli 2026
Bank Indonesia Mantap Kebijakan Stabil Menenangkan Pasar
27 Juli 2026
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Rp63k & Telur Rp32k per Kg
27 Juli 2026
Memuat komentar...