[BeritaLokal], Jakarta — Tiga gerai Tiffany & Co yang sebelumnya terkunci oleh Bea Cukai Jakarta kini berani berjalan kembali — bukan dengan tawa, tapi dengan tanda tangan yang telah disetujui. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang tiba-tiba menjadi “penyelamat” di tengah denda yang menggantung, mengangkat segel itu dengan penuh kebijaksanaan: “Sudah dibuka. Tiffany sudah mau ikut dengan peraturan pemerintah, akan membayar kewajibannya dan ke depan akan lebih baik.”
Bayangkan: sebuah toko perhiasan mewah yang selama ini menjadi “kotak hitam” di Plaza Senayan, Pacific Place, dan Plaza Indonesia — tiga lokasi yang seolah menjadi pusat kehormatan Jakarta — tiba-tiba dipenuhi dengan kain hitam yang menutupi semua barang. Tak ada yang menghentikan pemerintah, kecuali ketika perusahaan itu memilih jalan yang lebih cerah: membayar denda, memenuhi kewajiban, dan berjanji tidak akan terulang lagi.
Purbaya, yang tahu bahwa setiap tindakan pemerintah harus berjalan dengan hati-hati — bahkan jika itu berupa penghentian, pengawasan, atau penyegelan — mengatakan: “Kami tidak akan melakukan tindakan yang membuat mereka susah berbisnis. Ke investor lain juga sama. Selama mereka tertib, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.”
Ini bukan akhir dari kisah perhiasan mewah, tapi awal dari sebuah perjanjian. Purbaya menegaskan: “Masih sama. Mereka sudah setuju.” Dan sekarang, tiga gerai itu bisa kembali menyambut pelanggan dengan senyum dan cahaya — tanpa segel, tanpa tekanan, tanpa rasa takut.
Tapi jangan salah paham: ini bukan akhir dari “denda 1.000 persen”. Ini bukan penghukuman, tapi peringatan. Dan peringatan itu, seperti yang dikatakan Kepala Seksi Penindakan Bea Cukai Kanwil Jakarta, Siswo Kristyanto — “Kami masih melakukan penelitian, karena perlu disandingkan antara dokumen yang mereka declare dengan dokumen yang ada di kami.”
Karena itu, pemerintah memilih jalan yang paling halus: bukan dengan tangan yang menghancurkan, tapi dengan tangan yang menunjukkan: “Kita tidak ingin menghambat, tapi kita ingin memastikan.” Dan sekarang, Tiffany & Co bisa berjalan kembali — dengan kaki yang lebih tegak, dan hati yang lebih terbuka.
