PiP YouTube Tak Berfungsi: Pengguna iOS dan Android Kritis

BeritaLokal, Jakarta – Mode Picture-in di YouTube sedang menjadi sorotan setelah serangkaian laporan menunjukkan fitur PiP pada perangkat iPhone dan Android gagal beroperasi ketika pengguna menutup aplikasi. Bukan hanya pengguna iOS yang terdampak; sejumlah pelanggan Android kini melaporkan bahwa suara video tetap terdengar, namun tampilan visual tidak muncul di sudut layar, sehingga menonton menjadi tidak nyaman. Saat ini, ribuan pengguna kehabisan opsi menonton video dalam bentuk overlay kecil, sebuah kegagalan fungsi yang tampak sederhana namun berdampak luas bagi pengalaman pengguna platform video terbesar di dunia.

Pada Jumat, 17 Juli 2026, tim YouTube pertama kali mengidentifikasi masalah ini melalui sistem pelaporan internal dan segera menyatakan “Tim kami sedang melakukan investigasi.” Kerusuhan tidak hilang satu hari kemudian; pada 18 Juli, The Verge dan beberapa situs teknologi utama melaporkan ketebalan data adanya masalah teknis pada versi 21.28 aplikasi YouTube di iPhone. Data awal menunjukkan bahwa masalah terjadi ketika pengguna keluar dari aplikasi tetapi status video tetap aktif di latar belakang-mengingat fungsi PiP seharusnya diaktifkan otomatis pada layar kecil. Meskipun keberadaan PiP secara teknis sudah berfungsi di banyak platform, realitasnya pada perangkat iOS ternyata berbeda karena update khusus aplikasi.

Di tengah perkembangan ini, dilaporkan oleh 9to5Google pada 20 Juli bahwa mayoritas pengaduan berasal dari perangkat iOS, namun masalah tersebut juga muncul pada sebagian kecil Android. Pengguna Android yang mengalami kesulitan tampaknya menjadi minoritas, dan tes awal menunjukkan bahwa perangkat Pixel tidak mengulangi gangguan ini. Sementara itu, versi YouTube 21.28 yang diinstal di iPhone menyesuaikan kompatibilitas PiP dengan sistem operasi iOS 15 dan 16, namun belum optimal. Peneliti internal YouTube menyatakan mengevaluasi masalah pergantian sesi, memanggil API di Android dan iOS, serta memeriksa potensi konflik penyimpanan sisa kernel. Semua fakta menunjukkan bahwa adanya kerumitan dalam integrasi API multi-platform menjadi penyebab utama tersangka efisiensi berinovasi.

Inilah konteks yang lebih luas: ketika global outage YouTube baru-baru ini menyasar jutaan pengguna, masalah PiP menambah beban operasional. Saat lebih dari satu juta pengguna di Eropa serta Asia Bluetooth terhambat karena update server tak terduga, waktu respons perangkat menjadi kunci. Kendala PiP berfokus pada kegagalan menampilkan overlay “klik di kanan bawah” yang biasa menandakan video beralih ke mode miniatur. Meskipun suara tetap terdengar, pengguna kehilangan interaksi lengkap, dan ini memicu ketidakpuasan publik yang meluas di media sosial dan group pengguna YouTube.

Di balik peristiwa internal, ada pergeseran kebijakan yang lebih besar dari Komisi Eropa. Pada periode awal 2026, Komisi secara resmi mengeluarkan tumpukan keputusan hukum yang bersumber pada Undang‑Undang Pasar Digital, atau DMA. Langkah ini menuntut Google membuka sistem Android dan mesin pencarinya untuk kompetitor industri. Fasilitas seperti akses inti pada Android, yang kini hanya dapat diintegrasikan dengan asisten AI Gemini, harus tersedia bagi pihak ketiga. Konsekuensinya, lembaga regulasi menilai bahwa hingga saat ini sekitar 60% pengguna Android di Uni Eropa tetap setia pada asisten AI Google, serta tidak mencari alternatif. Menurut data survei internal, pembatasan fungsi ini secara langsung menurunkan peluang bagi AI lain melakukan inisiasi perintah suara yang serupa seperti “Hey Google.”

Dieksekusi dalam kebijakan DMA, Google kini diharuskan menyediakan API serupa bagi asisten AI gagal. Para pengembang AI pihak ketiga diharapkan dapat melakukan fungsi inti seperti memesan taksi online, merespon pesan instan, dan memproses rekomendasi lokasi. Sebagai contoh, di masa depan, perintah “Hey Google, order a ride from Jakarta to Bandung” dapat langsung diproses oleh layanan pesaing. Kode ini menuntut perlindungan privasi dan keamanan data pengguna yang ekivalen atau lebih tinggi daripada Google Assistant, dimaksimalkan melalui enkripsi end‑to‑end dan hak akses terbatas. Semua ini menandakan kebijakan teknologi yang lebih transparan sekaligus menguntungkan bagi inovasi pasar.

Keputusan tersebut sebenarnya menjembatani kesenjangan lintas platform, memaksa Google untuk membuka sistem operasi Android dan mesin pencarinya kepada kompetitor, sekaligus mengembalikan peluang bagi tenaga kerja digital berbasis AI. Rangkaian perubahannya masih berlangsung; kali ini, perkembangan paling penting ditekankan pada paket akses API baru yang mendukung fungsi inti, sehingga asisten AI bersaing di level yang sama dengan Gemini. Dalam kontingmen hukum yang ketat, Google berupaya menciptakan lingkungan inovasi yang lebih merata, sementara para pengguna di Eropa beberapa kali menandakan ekspektasi layanan digital yang lebih beradab.Likely, keputusan ini juga akan menurunkan kendala batasan minima yang selama ini dikembangkan, memberi ruang bagi lebih banyak sektor teknologi organisasi dapat menyeimbangkan.

Artikel Terkait

0