BeritaLokal, Mataram – Kisah Ponpes di NTB Bangun Kemandirian Ekonomi, Unit Usaha Raup Omzet Rp 3 Miliar per Tahun menjadi sorotan ketika Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin, yang didirikan pada akhir 1990‑an di Lombok Timur, menorehkan pencapaian over 70 % pendanaan operasionalnya lewat hasil usaha sendiri. Sejak pada tahun 2021, Bank Indonesia (BI) menekan langkahnya dengan menyediakan mesin penggilingan padi, rumah potong hewan unggas (RPHU), serta pelatihan manajemen keuangan untuk Badan Usaha Milik Pesantren (BUMPes) Thohir Yasin. Peningkatan produktivitas di benak pesantren sama sekali tidak sekadar tergantung pada iuran santri; lebih kepada strategi sistemik yang menghubungkan produksi, distribusi, dan pemasaran yang menyatu dengan kebijakan pemerintah.
BI, melalui deputi Kepala Perwakilan Nusa Tenggara Barat, Andhi Wahyu Riyadno, menegaskan kerja sama ini berlangsung lebih dari satu dekade, menandai komitmen BI memperkuat ekonomi syariah lewat lembaga pendidikan. Andhi memperkenalkan rencana kolaborasi, “Pesantren ini kan harapannya tidak hanya tergantung biaya santri, tapi juga punya unit-unit bisnis yang membuat mereka mandiri.” Kerja tersebut dikerjakan di sela‑sela peran kunci pesantren dalam penanaman nilai moral dan praktis bagi belajar dan bergabung dengan pasar modal tradisional Jakarta.
Pondok pesantren, dengan struktur BUMPes yang jelas, mengelola tiga unit utama: mesin penggiling padi (rice miller), Rumah Potong Hewan Unggas, dan distribusi beras melalui Rantai Pasok Makanan Global (MBG). Dalam enam bulan pertama meluncurkan RPHU, pendapatan mencapai Rp 500 juta, sementara mesin miller memproduksi beras lokal dengan margin neto hingga Rp 100 juta. Menjadi standar pasar, BUMPes kini terdaftar sebagai pemasok halal bagi SPPG, yang menambah legitimasi dan akses ke jaringan distribusi lebih luas. Unit kekatering dan katering pesantren memberikan layanan bagi santri maupun masyarakat sekitar, menambah aliran omzet tahunan yang menggelar lebih jauh dari 3 miliar rupiah.
Unit Usaha Pesantren Raih Omzet 3 Miliar
Berjalan atas fondasi manajemen keuangan yang gesit, BUMPes menerapkan sistem pencatatan terpisah antara operasional pesantren dan unit bisnis. Kepala BUMPes, Syahrullah, menilai keuntungan akhir, “Mesin penggiling padi memberi keuntungan hingga Rp 100 juta. RPHU mencapai Rp 500 juta dalam setengah tahun.” Kala itu, pelatihan intensif memberi keterampilan bagi tenaga kerja, termasuk pengetahuan tuntas mengenai sertifikasi halal, tata letak produksi, serta kepatuhan lingkungan yang menjadi syarat masuk rantai MBG. Proses ini diatur oleh BI sebagai enabler, mengirimkan tenaga ahli serta alat modern, sedangkan pesantren memanfaatkan modal sosial dan keterlibatan santri yang beradaptasi dengan standar produksi.
Di sisi distribusi, BUMPes aktif menghubungkan produk beras, unggas, dan produk sampingan lainnya ke pasar MBG, sekaligus memperluas jangkauan ke gospore, Gangni, dan daerah Pengkalan. Sumber tambang distribusi ini menjadi sistem “pay‑as‑you‑grow”, memudahkan pesantren mendapatkan umpan balik reguler dan memakai algoritma tren pasar. Parlemen dan beranggotakan Wali Kelas, pengurus BUMPes, melakukan evaluasi kuartalan untuk mempersiapkan strategi diversifikasi produk, contoh menambahkan bakso ayam organik, jagung manis kaleng, serta minyak goreng dari singkong.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Bisnis Pesantren
Biaya yang timbul memang besar, tetapi manfaatnya meluas melampaui batas pondok pesantren. Sekitar 150 pekerja, sebagian mereka penduduk setempat, terlibat di mesin penggiling, RPHU, dan otomatisasi gudang. Padanya, menyatu identitas dan kognisi, di mana santri dan masyarakat terstruktur kerja bersama dalam mengelola produksi beras, unggas, dan minuman tradisional. Gestion dukungan sosial, seperti beasiswa bagi anak yatim, fakir‑makin, dan pelajar berprestasi, menunjukkan tujuan sosial pesantren membantu melestarikan generasi muda mengatasi kesulitan ekonomi. Pendapatan lebih dari 3 miliar rupiah tahun itu menyumbang hampir 70 % kebutuhan operasional: gaji guru, pemeliharaan infrastruktur, kuliah bagi santri, dan pemadaman listrik.
Di balik setiap kerajinan kerja alat berat, komunikasi persuasif, dan lelucon di antara santri, terwujud sebuah kebijakan pendidikan terbaru yang menyalurkan potensi ekonomi pesantren menuju gambaran kemandirian yang berkelanjutan. Tanpa menggantung pada dana luar, pesantren mengaliri 70 % pendanaan melalui unit bisnis sambil keep mempercayai kesehatan bisnis untuk menuntun perubahan sosial. Fasilitas, peluang kerja, dan pengembangan ekonomi melalui langkah strategis BI memberikan contoh baru bagi lembaga pendidikan lainnya dalam mengisi akar ketahanan pangan dalam konteks kebijakan fiskal dan non-paper.
Artikel Terkait
Perampingan BUMN Lebih Dari 250 Perusahaan Lepas Akhir Juli
27 Juli 2026
BPJPH Dorong Usaha Capai Sertifikasi Halal Oke Oktober 2026
27 Juli 2026
Transmigrasi Jadi Pusat Ekonomi Baru, TEP Luncurkan
26 Juli 2026Bank Mandiri Raih Laba Rp30,4T Kuartal II 2026
25 Juli 2026
Bank Dunia Berhenti Bagi Pinjaman ke China pada 2031
24 Juli 2026
Pasar Halal Global Rp46.6 Triliun, Indonesia Bisa Pemimpin
23 Juli 2026Bank Indonesia Tingkatkan Insentif Makroprudensial Jadi 6%
22 Juli 2026
BPJS Ketenagakerjaan dan 100 Ahli Waris Kuasai Kewirausahaan
22 Juli 2026
Memuat komentar...