BeritaLokal, Malang – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pada Panen Raya Serentak yang digelar di Lanud Abdulrachman Saleh pada 17 Juli 2026 bahwa lahan tebu Indonesia telah menghentikan proses peremajaan selama 12 tahun berturut‑turut, dan menempatkan target baru untuk 300 ribu hektare lahan tebu yang harus dipenuhi dalam dua tahun ke depan. “Mentan Janji Peremajaan Lahan Tebu Dua Tahun, Prabowo: Asal Jangan Sakit!” tegas Presiden Prabowo Subianto saat mendengar laporan tersebut dan memerintahkan langkah-langkah konkret untuk memulai program massal tersebut secara merata di seluruh tanah air. Frasa tersebut bukan sekadar slogan, melainkan pengingat keras bagi rapat kementerian bahwa komitmen pada produktivitas gula harus diikuti oleh kebijakan berani.
Revitalisasi 300k Hektar Tebu
Pada momen tersebut, Prabowo menjelaskan bahwa rencana awal perusahaan menyerahkan 100 ribu hektar per tahun, memakan waktu empat tahun untuk mencapai target 300 ribu hektar. Namun, setelah diskusi singkat dengan MENTERAN, beliau menerima janji bahwa program dapat selesai dalam dua tahun dengan kecepatan “gagal berani”. Parker menambahkan bahwa peremajaan ini bukan sekadar mengganti bibit, tetapi melibatkan proses bongkar ratoon total lahan lama, serta inovasi dalam pemupukan, manajemen air dan pengolahan tanah. Kebijakan ini berfungsi sebagai pergantian sistem, menegaskan bahwa lahan tebu yang sudah tua berkontribusi pada penurunan produksi gula nasional dan menghambat swasembada gula konsumsi pada tahun 2027.
Dana dan Strategi Peremajaan Tebu
Prabowo menambahkan bahwa pemerintah akan membuahkan dana hibah sebesar Rp 1,7 triliun, yang telah dianggarkan dari APBN tahun ini untuk menutupi biaya program bongkar ratoon selama tiga tahun berturut‑turut, mulai dimulai sejak awal 2026. Nominal tersebut belum menutup semua biaya, namun menandai komitmen fiskal negara untuk memperkuat ketahanan pangan. Menurut Andi Amran, investasi ini tidak hanya akan mendukung produksi gula kristal putih (GKP) dan tetes tebu, tetapi juga menyediakan lapangan kerja bagi petani dan memastikan ketahanan pasokan gula bagi konsumen. Bukti nyata di lapangan terlihat dalam aksi lintas sektoral, di mana kementerian memperkenalkan audit literasi untuk menilai keberlanjutan hasil pertanian dalam jangka panjang.
Selain itu, Kementan mengusulkan luar biasa survei dan kajian lapangan bagi wilayah yang akan diperluas lahan tebu, melibatkan BUMN dan perusahaan swasta. Diskusi ini dijadwalkan pada akhir minggu ini di kantor Bulog Jakarta, tempat Amran mengakui bahwa bila “we need to replace” lebih banyak hektar harus dipertahankan, maka survei harus segera diluncurkan. Rencana tersebut diharapkan memperkuat basis lahan yang sudah ada dan menyusul dengan perluasan kawasan intinya, serta menambah produksi gula nasional di zona riset dan pengembangan.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional menegaskan pentingnya “bongkar ratoon” sebagai salah satu cara primer untuk memurnikan lahan tebu. Tindak lebih lanjut menargetkan “satu titik minimal 300 ribu hektar” setiap tahunnya, dan kembali ke peran inti dropless dalam pengembangan bioteknik selanjutnya. Gerakan ini berkilau di dunia pertanian, karena “ratusan ribu hektar” tersebut diharapkan akan mengangkat produksi GKP ke lebih tinggi, sekaligus menjatuhkan lahan tebu gasing dalam praktik yang lebih baik.
Pelaksanaan program memerlukan sinergi di antara berbagai lembaga. Di posisi yang sama, Prabowo menegaskan bahwa “apa pun yang kita lakukan harus benar-benar berfungsi, dan yang terpenting, kita harus dapat menamai semua menteri dan jenderal TNI yang hadir di sini sehingga mereka tidak “ambruk””, sambil menambahkan, “Jika Anda dapat bersantainya, maka itu akan lebih baik”. Pengingat tentang kesehatan tetap menjadi komponen penting karena kapasitas tenaga manusia dianggap kritikal, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah yang memikirkan kesejahteraan tugas dua tahun.
Melalui inisiatif ini, pemerintah tidak menunggu kesempatan, tetapi menstudi setiap tahapan pertanian secara terencana. Ini membawa harapan bagi petani tebu yang selama dekade terakhir mengidap sistem generasi tradisional. “Selama dua tahun, kita akan menyatukan semua lahan tebu kita.” kata Prabowo, dan menandakan bahwa setiap hektar, setiap kebun di kantor, harus mengalami transformasi maju. Di dunia industri gula yang kompetitif, keputusan ini menyisipkan strategi vanguard bagi negara agar tidak terjerat penurunan produk di pasar global.
Sementara kampanye peremajaan ini bergerak cepat, sektor relevan mulai mempersiapkan ketelitian teknis. Hubungan antara kebijakan publik dan investasi industri menjadi lancar dengan dukungan dana serabutan dan risiko yang bersandar kepada tubuh pertanian, serta menegaskan bahwa “Kita akan melepaskan lebih banyak ketergantungan pada impor gula”. Kebijakan telah sekaligus menandai era baru bagi petani tebu di Indonesia, di mana tantangan 12 tahun tidak ada peremajaan kini menjadi basah-besia yang lebih mendirikan.
Artikel Terkait
Internet 3T: Platform Global Wajib Berkontribusi
27 Juli 2026
Harga Telur Stabil Setelah Kebijakan Baru, Peternak Senang
27 Juli 2026
Kebijakan WFH ASN Satu Hari Tetap Diperpanjangan
25 Juli 2026
PFII Dimanfaatkan Lahan BUMN Ini Rencana Menteri
23 Juli 2026
Rupiah Kuat Devisa Hasil Ekspor Parkir Tingkatkan Cadangan
23 Juli 2026
DJP Garap Klarifikasi Babinsa Tidak Jadi Petugas Pajak
22 Juli 2026
Harga Telur Tanjak di Jakarta, Buruk Waktu Lebaran
21 Juli 2026
PKP Tegaskan Aturan Tegas bagi Perumahan Terjangkau
20 Juli 2026
Memuat komentar...