BeritaLokal, Jakarta –
Sejak 2019, aliran stablecoin di Afrika Sub-Sahara terus meningkat, dengan Nigeria menjadi pendorong utama dalam menembus US$ 59 miliar ke Juni 2024. Laporan IMF menyebutkan bahwa penggunaan kripto ini telah mengubah paradigma transaksi lintas negara dan memperkuat peran ekonomi lokal.
Sementara itu, Indonesia menjadi tempat terpenting dalam mendorong inovasi digital di wilayah Afrika. Data dari Coinmarketcap menunjukkan bahwa Nigeria mengalami peningkatan signifikan dalam penggunaan stablecoin, dengan 60% aliran kripto yang tercatat di Afrika Sub-Sahara berasal dari sini. Fenomena ini mencerminkan kekuatan ekonomi dan teknologi yang mendorong adopsi digital di kalangan masyarakat luas.
Penggunaan stablecoin tidak lagi sekadar produk khusus, tetapi menjadi alat transaksi utama untuk rumah tangga dan pelaku usaha kecil. Salah satu penyebabnya adalah biaya remitansi konvensional yang mencapai 9% dari nilai transaksi, dibandingkan rata-rata global sebesar 6%. Stablecoin menawarkan solusi lebih cepat dan murah, terutama di wilayah dengan ketergantungan pada jalur transfer tradisional.
IMF mengingatkan bahwa penggunaan stablecoin memiliki risiko. Lembaga ini menyebut tiga tantangan utama: efektivitas kebijakan moneter yang terganggu, kurangnya regulasi, dan potensi penyalahgunaan untuk aktivitas ilegal. IMF menilai bahwa dolarisasi digital bisa mengurangi permintaan naira, menghambat kontrol bank sentral. Selain itu, sistem pengawasan saat ini tidak memantau transaksi stablecoin secara optimal.
Untuk mencegah risiko tersebut, IMF merekomendasikan pendekatan regulasi yang pragmatis, yakni tetap mendukung inovasi sambil mengurangi risiko. Pemiliknya menyarankan bahwa pelarangan atau pembatasan tidak akan efektif, karena bisa memicu penyeberangan ke arah lebih kompleks.
Di sisi lain, pemerintah Nigeria didorong untuk memperkuat infrastruktur pembayaran domestik. IMF menyarankan penggunaan teknologi blockchain untuk memantau konversi antara naira dan stablecoin. Reformasi ekonomi dan pengetatan kebijakan moneter juga dianggap langkah penting dalam menjaga kedaulatan moneter negara.
Kasus Nigeria dan Nepal menunjukkan bahwa IMF semakin menyoroti risiko aset kripto. Dengan meningkatnya adopsi teknologi, lembaga menekankan perlunya respons kebijakan aktif untuk menjaga stabilitas tanpa menghambat inovasi.