Nana Bulungan di Dangdut Academy Tunjukkan Skor Juri

BeritaLokal, Jakarta – Penampilan Solo Nana Bulungan Dapat Banyak Catatan dari Para Juri saat menampilkan lagu “Datang Untuk Pergi” pada sabtu, 18 Juli 2026, di panggung Top 42 Dangdut Academy 8. Performa ini menandai transisi Nana Bulungan (nama asli Asna Kirani) dari paduan trio ke solo, sambil tetap bergabung dengan Tim Melly Lee bersama 13 kompetitor lainnya. Meskipun menampilkan ketegasan vokal, penampilannya tidak mendapatkan standing ovation, namun memberikan panggilan perhatian serius dari juri yang terkemuka.

Detail Kritik Juri

Setelah beberapa detik di atas panggung, juri Soimah, Lesti Kejora, dan Wika Salim membuka catatan mereka satu per satu. Soimah memfokuskan kritik pada penempatan improvisasi di bagian akhir lagu. Ia menjelaskan, “Penempatan improv di ending aja. Jadi fokus yang di akhir aja yang tinggi. Beberapa hari yang lalu saya pernah komen. Jadi hati hati. Kalaupun ada improv sedikit, gak apa-apa yang penting dia gong. Jangan ada beberapa tempat yang akhirnya nggak ada yang gong.” Catatan ini menegaskan pentingnya konsistensi “gong” atau penggunaan ritme yang bersahutan, sekaligus menyoroti perlunya menyesuaikan improvisasi agar tidak mengganggu alur musik keseluruhan.

Sementara itu, Lesti Kejora tidak memadamkan keterlibatan kritisnya, meski ia lebih terkenal dengan penghargaan d’Academy musim pertama. Lesti menilai keseriusan Nana dalam menghadapi tekanan, sekaligus menyuarakan keharusan persiapan mental. Ia mengingatkan bahwa kompetisi “saja begitu”, dan menekankan pentingnya pion pendampingan saat berhadapan panggung dengan jadwal padat.

Wika Salim pula memberikan umpan balik yang bersifat konstruktif, menekankan gaya vokal dan penyesuaian tempo. Ia menyiapkan pujian sekaligus saran agar Nana dapat mengoptimalkan ekspresi diri tanpa kehilangan alur timing. Kritik keseluruhan dari tiga juri memadukan nilai seni dan teknis, menggarisbawahi bahwa “penampilan solo Nana Bulungan Dapat Banyak Catatan dari Para Juri” untuk mengembalikan kualitas yang lebih tinggi.

Tantangan Mental Kompetisi

Penampilan ini juga menyoroti peristiwa sebelumnya, ketika Nana menempuh gugusan kerja sama trio dengan Fakhri & Sakhi. Weszug trio tersebut berhasil mendapat pujian juri, memancarkan suasana kerja sama yang sinergis. Tetapi untuk format solo, Nana tampak lebih terbelenggu, beranggapan kondisi latihan hanya satu hari sebelum tampil. Ia mengakui, “Jujur, penampilan buat malam ini agak gugup. Karena mungkin waktu latihannya sebentar aja, karena sehari aja, masih kurang persiapan aja,” ujarnya saat berbincang pasca penampilan.

Reactasi juri Soimah menegaskan bahwa “semua akademinya juga begitu.” Ia terus mengejukan pancarohan mental sebagai elemen penting dalam berkompetisi. Lesti kemudian menggantungkan nasihatnya tentang keberanian, “Semua akademinya juga begitu. Jadi namanya kompetisi, kita bisa ditantang pada saat di panggung loh. Jadi kamu siapin mental itu ya sayang ya. Semangat kamu cantik loh. Suaranya juga bagus, harus pede.” Sementara itu, Wika Sentik memberikan penguatan tentang keunikan suara Nana yang tetap amanah.

Pengamatan kritis ini menunjukkan kompleksitas sebuah pertunjukan solo dalam lingkup kompetisi dangdut. Penampilan solo, meskipun di luar konteks kolaborasi earlier, menuntut kestabilan teknik, improvisasi yang terukur, dan kesigapan mental yang bisa ditingkatkan menjadi poin outlier. Di tengah strategi juri, “Penampilan Solo Nana Bulungan Dapat Banyak Catatan dari Para Juri” menjadi panggilan bagi artis untuk melakukan evaluasi diri dan menyempurnakan kepribadian panggung pada rangkaian Top 42.

Artikel Terkait

0