Lorde Ungkap Kritikan Kacamata AI Ray-Ban Tidak Keren

BeritaLokal, Jakarta – Penyanyi Lorde Kritik Kacamata AI Meta Ray-Ban: Itu Tidak Keren ketika menampilkan pertunjukan di Mad Cool Festival Madrid, laga musik Terbuka Tempat, mengingatkan publik bahwa inovasi wearables tidak selalu disambut mendadak. Pada tanggal 15 Juli 2026, Lorde, yang berusia 29 tahun dan berasal dari Selandia Baru, berdiri di panggung Madrid dan mengejawantahkan rasa tidak nyaman yang dirasakannya tentang “kacamata pintar” yang sedang berlangsung menerangi inti festival. Kritikan tersebut menjadi sorotan kontroversial karena festival tersebut didukung oleh sponsor utama Meta Ray‑B.

Dalam ritme yang semakin meluruskan batas antara realitas dan teknologi, Lorde menyatakan bahwa saat mereka menatap kalengak batara piksel di ruang publik, mereka kehilangan interaksi manusia yang sederhana. Menurut berita yang ditarik dari Business Insider, pada sela-sela penampilannya, Lorde mengungkapkan kerupukannya bahwa “persetan dengan kacamata itu. Jangan beli kacamata itu. Sama sekali tidak keren.” Pernyataan ini tidak hanya menimbulkan kegembiraan di kalangan pecinta musik, tetapi juga menuai reaksi luas di kalangan pengguna teknologi.

Sementara festival di Madrid dipenuhi promosi perangkat wearable AI yang diputuskan untuk meningkatkan pengalaman digital penonton, tidak keberatan akan menyebutkan brand secara langsung. Namun mayoritas pihak berperan memperdebatkan bahwa pernyataan tersebut mengarah pada Ray‑B AI Glasses yang dikembangkan kolaborasi Meta dengan EssilorLuxottica, pemilik Ray‑B dan Oakley. Kacamata berbasis AI tersebut dirancang untuk menawarkan pengalaman tambahan seperti menjawab pertanyaan, memutar audio, dan mengambil foto atau video melalui kamera yang tersembunyi di dalam bingkai.

Memperkenalkan teknologi Wearable AI ke pasar global berada di tengah persaingan ketat antara perusahaan teknologi. Meta, yang memimpin sektor ini, mengisahkan sinergi batal dengan EssilorLuxottica guna meluncurkan lini Ray‑B Meta Smart Glasses yang ditujukan menjadi daya tarik inovasi fashion. Di sisi harga, kacamata ini bendera $299 (sekitar Rp 5,38 juta) dan meliputi fitur-fitur yang menjanjikan pengalaman augmented reality (AR). Namun, seperti yang dilaporkan para kritikus, kebijakan privasi dan potensi kamera terpasang secara diam-diam menimbulkan apa yang dianggap dan menantang di pasar global.

Kader pemerintah menilai bahwa penjualan kacamata AI Meta tetap robust meskipun kontroversi ini beradai. EssilorLuxottica mengumumkan penjualan lebih dari 7 juta unit pada tahun lalu, diikuti dengan Oakley Meta. Angka tersebut menunjukkan tajamnya minat konsumen pada wearable AI, serta orientasi market yang relatif stabil di tengah kritik yang bersemi.

Diagram Dinamika Kritik vs. Reaksi

Lorde menempatkan kritiknya di tengah percakapan yang melibatkan berbagai pihak. Pada sisi komersial, CEO Meta Mark Zuckerberg menegaskan bahwa desain yang modis merupakan kunci bagi penerimaan luas. Dalam konteks ini, kritik Lorde tentang nuansa “tidak keren” dapat dipertimbangkan sebagai respon terhadap strategi Meta, yang mengintegrasikan AI ke dalam dunia fesyen. Hal ini penting mengingat kaleidoskop publik yang semakin menuntut nilai estetika yang terintegrasi dengan kehidupan digital.

Sejarah Lorde menjadi sangat relevan ketika dia sebelumnya berupaya mengurangi ketergantungan pada ponsel dan melainkan memfokuskan kembali perhatian pada “hanya berinteraksi dengan dunia nyata”. Dampak haluan ini tercermin di sini: Ia mengusung ketidaktertarikan terhadap teknologi. Posisi ini diakui menampak bahwa gunakan kacamata AI bukan hanya sekadar konsumsi gadget, tetapi sekurang-kurangnya sebuah iterasi kebohongan-data.

Kritik publik tidak terhenti setelah hoc. Now, para penyelaras teknologi menanyakan seberapa baik kacamata tersebut bertanggung jawab secara etis. Perbaikan privasi diikuti bagusnya soal kabel dan desain memulai ke sana. Kuncinya adalah bagaimana Meta dan para ketua teknologi selanjutnya dapat memastikan hadirlah transparansi dalam prakteknya. Dan seiring pintasan ini diteruskan, kemungkinan penggunaan device terintegrasi akan terus berevolusi, menyangkut batas-batas sosial.

Lorde mengajak masyarakat mempertanyakan kembali penggunaan wearable seharusnya menolak hal-hal yang tampak secara default melampaui batas-batas visual dan sosial. Kecanggihan dan pesona pola ini secara puruh menegaskan gayah pada cara-cara warga cenderung tempat. Di dunia yang memerlukan ketelitian produksi Ramsis, perusahaan digital menjadi leruan dari kesulitan. Di antara ketidakpanjangnya kondisi ini, Parameter Edmund.Mandara.Tipsaisseris Sarang Rasa Tembak.

Artikel Terkait

0